Armayanti (105104006)

Jelaskan yang dimaksud dengan :

  1. bahasa itu bersistem
  2. bahasa itu arbitrer
  3. bahasa itu bersifat konvensional

dan berikan contoh dari masing-masing sifat bahasa tersebut!menurut anda dan menurut teori pakar!

Jawab :

  • Bahasa itu bersistem

Bahasa memiliki sifat sistematis, yang berarti dalam bahasa itu terdapat aturan atau kaidah. Beroperasinya bahasa selalu terkait pada aturan-aturan atau kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena itu pula dapat dikatakan bahwa bahasa itu teratur. Sistem yang berlaku pada bahasa bukanlah sistem yang sederhana. Di dalam sistem itu terdapat subsistem.

Contoh : Dalam organisasi tata bahasa, peringkat yang paling tinggi adalah kalimat, kemudian diikuti oleh klausa, frasa atau kelompok kata dan morfem. Setiap tataran yang lebih tinggi terbentuk dari satu atau lebih satuan pada tataran dibawahnya. Seperti aku yang berasal dari satu morfem (aku) atau megaku yang berasal dari dua morfem, yaitu (meN-) dan (aku).

  • Bahasa itu arbitrer

Ciri arbitrer ini tampak pada hubungan antara lambang dan yang dilambangkan dalam pengertian bahwa tidak ada hubungan langsung antara lambang dan yang dilambangi.

Contoh : Dalam bahasa Indonesia, kata pencuri melambangi : “orang yang mengambil milik orang tanpa minta izin dan tanpa setahu pemiliknya”. Tidak dapat dinalar mengapa lambang yang digunakan adalah kata pencuri, dan bukan perampok, pengambil, pembajak.

  • Bahasa itu konvensional

Seperti telah disebutkan di atas bahwa sifat arbitrer itu berlaku secara sosial, tidak secara individual. Sifat itu merupakan hasil kesepakatan masyarakat. Karena itulah, bahasa dapat disebut bersifat konvensional sebagai sifat hasil kesepakatan.

Contoh: “anjing” yang telah secara konvensional digunakan sebagai lambang binatang berkaki empat yang dapat menggonggong.

Sedangkan menurut beberapa pakar yang membuat defenisi tentang bahasa dengan pertama-tama menonjolkan segi fungsinya, seperti Sapir (1221:8), Badudu (1989:3), dan Keraf (1984:16) adalah sebagai berikut:

  • Bahasa Sebagai Sistem

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistemis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem; atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik. Tiap unsur dalam setiap subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk satu sistem. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem itu pun tidak dapat berfungsi.
Sub sistem bahasa terutama subsistem fonologi, morfologi, dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain ini terletak pula di bawah subsistem lainnya lagi. Ketiga subsistem itu (fonologi, morfologi, dan sintaksis) terkait dengan subsistem semantic. Sedangkan subsistem leksikon yang juga diliputi subsistem semantic, berada di luar ketiga subsistem struktural itu.

Misalnya, ketika seseorang ingin menyatakan perasaan tidak ingat dengan apa yang ingin disampaikannya dengan bunyi lupa. Bunyi ini jika ditukar tempat akan menjadi lain maknanya, yakni pertukaran tempat /pa/ di depan dan /lu/ di belakang akan menjadi palu. Dengan demikian maknanya pun akan sangat jauh berbeda, karena palu adalah kata benda, sedangkan lupa adalah kata sifat.

  • Bahasa itu arbitrer

Kata arbitrer diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbiter itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut significant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant.

Misalnya,antara (Ayam) dengan yang dilambangkannya, yaitu “Binatang berkaki dua yang dapat berkokok” kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi (Ayam) bukan (Yama) atau (Yaam). Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer tetapi penggunaan lambang tersebut untuk konsep tertentu, bersifat Konvensional artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang bahasa tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya tersebut.

  •  Bahasa itu konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. Misalnya, “Ayam” telah secara konvensional digunakan sebagai lambang binatang berkaki dua yang dapat berkokok.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s