Tugas 2

KARAKTERISTIK BAHASA

Bahasa itu Bersistem

Sistem: Bahasa memiliki seperangkat aturan yang dikenal para penuturnya. Perangkat inilah yang menentukan struktur apa yang diucapkannya. Struktur ini disebut grammar. Bagaimanapun primitifnya suatu masyarakat penutur bahasa, bahasanya itu sendiri bekerja menurut seperangkat aturan yang teratur.  

Mengapa bahasa bahasa dikatakan bersifat sistemik? karena bahasa diatur oleh sistem bunyi dan sistem makna. Bahasa terdiri atas rangkaian bunyi/bunyi bahasa yang mempunyai makna atau arti tertentu. Misalnya, rangkaian bunyi a n m k a adalah rangkaian bunyi bahasa yang belum bermakna, sedangkan rangkaian bunyi m a k a n merupakan rangkaian bunyi bahasa yang bermakna, yaitu bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, mengunyah, dan menelannya. Selain itu bahasa bersifat sistemik karena penyusunan suatu bahasa harus mengikuti kaidah tertentu. Misalnya, kaidah dalam bahasa Indonesia diatur dalam tata bahasa Indonesia yang terdiri atas tatabunyi/fonologi, tatabentuk kata/morfologi, tatakalimat/sintaksis, dan tatamakna/semantik. Kaidah lain, misalnya kaidah penulisan yang diatur dalam tataejaan yang tertuang dalam buku Ejaan Yang Disempurnakan.

Bahasa Bersifat Arbitrer

Menurut Kridalaksana dan Kentjono (1982: 2) bahasa adalah system lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunkaan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berinteraksi, serta mengidentifikasi diri. Sejalan dengan pendapat Kridalaksana dan Kentjono, Finochiaro (1964: 8) bahasa adalah system symbol vocal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu untuk berkomunikasi atau berinteraksi.

Berdasarkan pengertian tersebut bahasa itu memiliki sifat arbitrer. Artinya walaupun bahasa itu tersusun secara hierarkis, tetapi susunan itu dilakukan oleh masyarakat pemakai bahasa dengan mana suka (sewenang-wenang). Ciri arbitrer ini tampak pada hubungan antara lambang dan yang dilambangkan dalam pengertian bahwa tidak ada hubungan langsung antara lambang dan yang dilambangi. Dalam bahasa Indonesia, kata pencuri melambangi: orang yang beroprasi mengambil milik orang tanpa minta izin dan tanpa setahu pemiliknya. Tidak dapat dinalar mengapa lambang yang digunakan adalah kata pencuri, bukan perampok, pengambil, atau pembajak.

Pelambangan seperti di atas tidaklah bersifat individual. Tidak ada peluang bagi setiap individu untuk menciptakan satuan bahasa sekehendaknya. Sifat arbitrer ini hanya berlaku dalam masyarakat bahasa dalam bentuk kesepakatan atau konvensi. Jadi masyarakat bahasalah yang sewenang-wenang menetukan lambang-lambang dalam bahasa dan menetukan pula wujud yang dilambangi oleh lambing-lambang itu.

Bahasa Bersifat Konvensional

Seperti yang telah disinggung di atas bahwa sifat arbitrer itu berlaku secara sosial, tidak secara individual. Sifat itu merupakan hasil kesepakatan masyarakat. Karena itulah, bahasa dapat disebut bersifat konvensional sebagai sifat hasil kesepakatan masyarakat. Hal yang perlu dipahami adalah kenyataan bahwa kesepakatan itu bukanlah formal yang dinyatakan melalui musyawarah, siding, rapat, atau kongres, atau rapat raksasa untuk menentukan lambang tertentu.

CONTOH FUNGSI BAHASA

  1. 1.    Bahasa sebagai  alat ekspresi diri

Tulisan kita dalam sebuah buku diary, merupakan hasil ekpresi diri kita. Pada saat menulis, kita tidak memikirkan  siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Contoh lain ketika kita menulis sebuah kisah perjalanan hidup kita dalam bentuk cerpen, kita tidak memikirkan apakah cerpen tersebut diminati oleh orang lain atau tidak. tidak memikirkan siapa pembacanya. Apakah orang yang membacanya menghayati atau tidak,apakah pembaca memahami maksud kita atau tidak. sebab penggunaan bahasa dalam hal ini hanya sebagai kepentingan pribadi, hanya untuk menyatakan segala sesuatu yang tersirat dalam dada kita.

  1. 2.    Bahasa sebagai alat komunikasi

Dua orang yang saling tidak mengenal secara kebetulan duduk berdampingan dalam sebuah pesawat. Kedua orang tersebut berasal dari Indonesia menuju Madinah. Tentulah Perjalalan ini memerlukan waktu beberapa jam, otomatis kejanggalan akan terjadi jika diantara mereka tidak ada komunikasi sama sekali. jadi sangat wajar jika mereka saling menyapa, saling bertanya, dan menjawab.

  1. 3.    Bahasa sebagai alat integritas dan adaptasi sosial

Seorang pelajar yang mendapatkan beasiswa  luar negeri misalnya beasiswa Australia. Orang tersebut harus menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Inggris sebagai syarat untuk menutut ilmu di sana. Tanpa menguasai bahasa Inggris, dia tidak akan bisa berbaur dengan mereka yang berdomisili di negara asing tersebut. Namun ketika dia mampu mengusai bahasa Inggris, dengan mudahnya dia dapat berdaptasi dengan masyarakat yang berdomisili di negara tersebut.

  1. 4.    Bahasa sebagai alat kontrol sosial

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol. Kita juga sering mengikuti diskusi atau cara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial.   Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s