Tugas 2

A. Jelaskan yang dimaksud dengan bahasa bersistem, arbitrer, konvensional, dan berikan contoh masing-masing!

1. Bersistem

Bahasa bersistem berarti dalam bahasa itu terdapat aturan atau kaidah. Beroperasinya bahasa selalu terkait pada aturan-aturan atau kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena itu pula dapat dikatakan bahwa bahasa itu teratur.

Sistem yang berlaku pada bahasa bukanlah sistem yang sederhana. Di dalam sistem itu terdapat subsistem. Berdasarkan tatarannya, subsistem itu mencakup (1) subsistem bunyi, (2) subsistem gramatika, (3) subsistem leksikon. Hal itu yang disebut istilah sistemis.  Hal itu sejalan pernyataan Boey (1982). Dikatakannya bahwa setiap bahasa memiliki struktur ganda  (dual structure) yang berarti bahwa dalam bahasa manusia terdapat dua tataran dalam struktur kerelasian yang sistematis. Dengan kata lain, setiap bahasa terdiri dari dua subsistem. Subsistem yang pertama adalah satuan-satuan yang bermakna. Subsistem yang kedua subsistem bunyi yang tidak mengandung makna, tetapi bunyi-bunyi itu membentuk satuan-satuan yang bermakna. Boey mengingatkan bahwa bahasa adalah ujaran (speech) dalam pengertian bahwa bahasa merupakan sistem bunyi yang berhubungan dengan sistem makna.

Para linguis seperti Halliday, Mclintoosh dan Strevens (dalam Tomori, 1977) membedakan  satuan-satuan fonologi. Dalam bahasa Indonesia dengan unsur tata dapat dibentuk tata bunyi,  tata kata, tata kalimat, dan tata wacana yang menampakkan bunyi sebagai satuan kebahasaan. Dalam organisasi tata bahasa peringkat yang paling tinggi adalah kalimat, kemudian diikuti oleh klausa, frasa, kata, dan morfem. Setiap tataran yang lebih tinggi terbentuk dari satu atau lebih satuan pada tataran di bawahnya. Kata, misalnya, dapat tersusun dari satu morfem, aku yang berasal dari satu morfem (aku) atau mengaku yang berasal dari dua morfem yaitu (meN-) dan (aku).

2. Arbitrer

Ciri arbitrer ini tampak pada hubungan antara lambang dan yang dilambangkan dalam pengertian bahwa tidak ada hubungan langsung antara lambang dan yang dilambangi. Dalam bahasa Indonesia, kata pencuri melambangi ‘orang yang beroperasi mengambil milik orang lain tanpa minta izin dan tanpa sepengetahuan pemiliknya’. Tidak dapat dinalar mengapa lambang yang digunakan adalah pencuri, dan bukan perampok, pengambil, pembajak. Pelambang seperti itu dalam bahasa Inggris disebut thief. Mengapa pelambangnya demikian? Tidak dapat dijawab karena tidak ada hubungan logis antara lambang dan yang dilambangi itu.

Dalam objek atau pengalaman yang manapun tidak didapati sifat-sifat yang berpautan yang menuntut kita untuk melekatkan lambang-lambang verbal pada objek dan pengalaman itu. Kita menggunakan kata burung untuk menunjukkan binatang vertebrata yang bersayap dan bertelur. Orang Inggris menggunakan kata bird; orang Arab teorun; orang Bugis manuk-manuk; dan orang Belanda voget.

Pelambangan seperti di atas tidaklah bersifat individual. Tidak ada peluang bagi setiap individu untuk menciptakan satuan bahasa sekehendaknya. Sifat arbitrer itu hanya berlaku dalam masyarakat bahasa dalam bentuk kesepakatan atau konvensi. Jadi, masyarakat bahasalah yang secara sewenang-wenang menentukan lambang-lambang dalam bahasa dan menentukan pula wujud yang dilambangi oleh lambang-lambang itu.

3. Konvensional

Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa sifat arbitrer itu berlaku secara sosial, tidak secara individual. Sifat itu merupakan hasil kesepakatan masyarakat. Karena itulah, bahasa dapat disebut bersifat konvensional sebagai sifat hasil kesepakatan. Hal yang perlu dipahami adalah kenyataan bahwa kesepakatan itu bukanlah formal yang dinyatakan melalui musyawarah, sidang, rapat, atau kongres, atau rapat raksasa untuk menentukan lambang tertentu.

Walaupun forum formal tidak ada dan harus tidak ada, setiap pemakai bahasa tunduk kepada kesepakatan atau konvensi itu. Disadari atau tidak, pemakai bahasa sudah melakukan hal itu. Pelambangan yang menyimpang menyebabkan bahasa yang digunakan seseorang menjadi tidak komunikatif. Misalnya, kata aku dalam bahasa Indonesia yang melambangkan identitas diri semua orang sepakat dengan kata aku dan tidak menggunakan kata kucing, anjing, ataupun monyet.    

 B. Contoh dari Masing-masing Fungsi Bahasa

1. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Contoh: Seorang pemuda yang ingin menyatakan cintanya kepada seorang gadis. Untuk itu, dia harus menggunakan bahasa, katakanlah bahasa cinta. Ketika pemuda itu mengatakan cinta kepada sang gadis, ia menggunakan bahasa untuk menyatakan diri, misalnya I Love You…. Bahasa yang digunakan itu mengemban fungsi sebagai alat ekspresi diri. Berbagai macam perasaan dan pikiran tentu dapat dinyatakan, seperti perasaan susah, kalut, senang, dan marah.

2. Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Contoh: Dua orang yang saling tidak mengenal secara kebetulan duduk berdampingan dalam sebuah bus. Mereka bisa saja tidak melakukan komunikasi apapun selama dalam perjalanan. Kalau lama perjalanan itu hanya beberapa menit memang tidak menimbulkan kejanggalan. Akan tetapi, jika perjalanan itu memerlukan waktu beberapa jam, bahkan berjam-jam, kejanggalan akan terjadi jika di antara mereka tidak ada komunikasi sama sekali. Adalah sangat wajar jika mereka saling menyapa, saling bertanya, dan saling menjawab. Dari ilustrasi inilah bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi.

3. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Contoh: Seorang siswa yang akan berbicara pada gurunya, ia pasti menggunakan istilah yang lebih sopan seperti “Maaf, Pak, saya mau bertanya!” dan sang guru juga menjawab “Iya Nak, silakan!”. Berbeda halnya dengan siswa tersebut apabila hanya ingin berbicara dengan teman sebaya pasti ia hanya mengatakan “Hey mau ke mana?”. Ungkapan kesopanannya berbeda dengan yang diucapkan pada sang guru. Di sini bahasa berfungsi sebagai alat integrasi dan adaptasi.

4. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial

Contoh: Ketika seorang ibu menyuruh anaknya belajar. Kalimat yang terlontar bisa bermacam-macam, tetapi kalimat apapun yang dinyatakan oleh si ibu memiliki maksud yang sama, yakni “agar anaknya belajar”. Mungkin si ibu menyatakan dengan kalimat langsung “belajarlah Nak!” Mungkin juga dengan kalimat langsung “Mengapa tidak segera ke kamar belajar?”. Kedua kalimat itu memiliki fungsi yang sama yakni sebagai alat untuk menyuruh anaknya belajar (kontrol sosial).

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s