105104030 (sridzurriyaani) Tugas Kedua

Tugas Individu

Jelaskan yang dimaksud dengan bahasa itu bersistem , bahasa itu arbitrer dan konvensional. Serta contohnya menurut pakar??

Bahasa sebagai system

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistemis, artinya, bahasas itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem; atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik. Tiap unsur dalam setiap subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk satu sistem. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem itu pun tidak dapat berfungsi.

Sub sistem bahasa terutama subsistem fonologi, morfologi, dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain ini terletak pula di bawah subsistem lainnya lagi. Ketiga subsistem itu (fonologi, morfologi, dan sintaksis) terkait dengan subsistem semantic. Sedangkan subsistem leksikon yang juga diliputi subsistem semantic, berada di luar ketiga subsistem struktural itu.

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis, artinya bahasa itu tersususun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut ini!

(1a) Allah menciptakan langit dan bumi.

Kalimat (baca: bahasa) di atas mempunyai pola aturan tertentu,yang benar, sesuai kaidah tata bahasa Indonesia. Karena susunannya yang tidak sembarang, kalimat tersebut dapat dipahami dengan mudah dan benar. Jika susunan tersebut kita ubah menjadi,

(1b) Allah langit menciptakan dan bumi.,atau

(1c) langit dan Allah bumi menciptakan. dan seterusnya,

maka kalimat-kalimat di atas tidak sistematis, karena susunannya tidak mengikuti satu pola yang benar dalam kaidah bahasa (Indonesia).

Setiap bahasa memiliki susunan atau pola-pola tertentu, dan pola-pola itu bisa jadi tidak sama untuk masing-masing bahasa, terutama dalam tata urutnya. Akan tetapi, walaupun begitu fungsi masing-masing komponennya sama saja. Dengan adanya pola-pola inilah suatu bahasa menjadi indah, karena dengan pola-pola tersebut bahasa menjadi mempunyai fungsi, yaitu membentuk sebuah makna.

Jika dalam kaidah bahasa al-Quran, contoh kalimat di atas disusun menjadi dua kemungkinan, yaitu:

(2a) الله خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ , dan

(2b) خَلَقَ الله السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ

Dua susunan kalimat di atas bisa terjadi karena bahasa al-Quran, mengenal dua pola susunan kalimat, yaitu 1) S + P +O (contoh 2a) , dan 2) P + S + O (contoh 2b).

Adapun bahasa bersifat sistemis, artinya adalah bahwa bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem; atau sistem bawahan, seperti sub-sistem fonologi, sub-sitem morfologi, sub-sistem sintaksis, dan sub-sistem semantik. Berbeda dengan sub-subsistem yang terdapat pada sebuah bangunan rumah, sub-subsistem bahasa ini bersifat hirarkis, yaitu bahwa subsistem yang satu merupakan bagian dari subsitem lainnya yang lebih besar. Bahasa tersusun dari sub-subsistem yang bernama kalimat. Kalimat tersusun dari sub-subsistem yang berupa kata, dan kata tersusun dari sub-subsistem yang bernama huruf.

Bahasa itu arbiter

Kata arbiter diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbiter itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut significant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant.

Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan.

Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu.

Bahasa itu konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. bersifat konvensional. Artinya semua masyarakat bahasa tersebut mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya tersebut. Misalnya “anjing” yang telah secara konvensional digunakan sebagai lambang binatang berkaki empat yang dapat menggonggong.

Indonesia harus mulai mencintai bahasanya, sebelum ‘badai’ kearbitreran dan ‘arus’ konvensionalitas mengobrak-abrik tatanan bahasa yang dianggap sudah kaprah. Kebiasaan dan sikap profesionalitas berbahasa yang baik harus dijaga.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s