tugas 2 psikolinguistik

  1. A.    Bahasa sebagai sistem

Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan makna ‘cara’ atau ‘aturan’, seperti dalam kalimat “. Tetapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan yang lainnya berhubungan secara fungsional. Untuk mendapat pengertian yang lebih baik, kita ambil contoh  yang konkret yaitu sebuah “sepeda” atau kereta angin. Sebuah sepeda disebut sebagai sepeda yang berfungsi adalah kalu unsur-unsurnya atau komponen-komponennya (seperti roda, sadel, kemudi, rantai, rem, lampu, dan sebagainya) tersusun sesuai dengan pola atau pada tempatnya. Kalau komponen-komponennya tidak terletak pada tempatnya yang seharusnya, meskipun secara keseluruhan tampaknya utuh, maka sepeda itu tidak dapat berfungsi sebagai sebuah sepeda, karena susunannya itu tidak membentuk sebuah sistem.barang tersebut barangkali tepat dsebut sebagai tumpukan suku cadang sepeda, atau sepeda yang perakitan komponen-komponennya tidak benar.

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari beberapa sub-subsistem. Sub-subsistem itu antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem semantik. Subsistem-subsistem bahasa, terutama subsistem fonologi, morfologi, dan sintaksis tersusun secara hierarki, artinya tersusun di bawah subsistem yang lain. Jenjang subsistem ini dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa.

wacana

kalimat

klausa

frase

kata

morfem

fonem

fon

sintaksis

morfologi

fonologi

  1. B.     Bahasa itu arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Contoh, lambang bunyi [kursi] digunakan untuk menyatakan sejenis perabot rumah tangga berkaki empat yang biasa ditempati untuk duduk tidak dapat dijelaskan. Andaikata hubungan itu bersifat wajib, tentu untuk menyatakan perabot rumah tangga dalam bahasa Indonesia disebut [kursi] tidak ada yang menyatakan <kadera>, <kursiyyun> atau <chair>.

  1. C.    Bahasa itu konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakilli konsep yang diwakilinya. Kalau misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, yang secara arbitrer dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhinya, dan menggantikannya dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat bahasanya tidak dapat dipahami oleh penutur bahasa Indonesia lainnya; dan berarti pula dia telah keluar dari konvensi itu.

Funsi Bahasa

  1. Sebagai alat ekspresi diri

Contoh, ketika kita menulis sebuah karya sastra, baik itu puisi, cerpen ataupun novel, itu merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa yang akan membaca tulisan kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Berbeda halnya ketika kita menulis surat epada orang lain, kita akan berpikir kepada siapa surat tersebut ditujukan. Kita akan memilih bahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.

  1. Sebagai alat komunikasi

Contoh, pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan tertentu, tapi kalau kita menggunakan kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum.

  1. Sebagai alat intergrasi dan adaptsi sosial

Contoh, pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apa kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kita itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

  1. Sebagai alat kontrol sosial

Contoh, bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah diterapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah kita. Ketika kita jengkel atau dongkol dan marah maka tuangkanlah semua rasa itu dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan dengan jelas dan lebih tenang.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s