TUGAS 3 PSIKOL…

TUGAS 3 PSIKOLINGUISTIK

Teori  Ferdinand De SaussureS

De Saussure disebut sebagai  “Bapak Linguistik Modern” karena pandangan pandangannya yang baru mengenai studi bahasa yang dimuat dalam bukunya itu.Padangan pandangannya itu natara lain mengenai :

  • Telaah sinkronik dan diakronik dalam studi bahasa

Salah satu ilmu yang mengkaji bahasa secara ilmiah adalah Linguistik. Dalam Linguistik pun sifat pengkajian bahasa di dalamnya masih luas

Tujuan dari terbaginya Linguistik Sinkronik dan Linguistik Diakronik seperti yang telah disebutkan di atas yaitu sebagai wadah pengkajian bahasa agar lebih fokus dan terarah. Sebab yang dikaji dalam kedua linguistik ini tidak terbatas hanya pada Bahasa Indonesia saja, namun bahasa di seluruh dunia. Selain tujuan umum di atas, tujuan lain yang  lebih spesifik adalah berbeda antara Linguistik Sinkronik dan Linguistik Diakronik.

  1. Pengertian

Adapun pengertian dari linguistik sinkronik yang akan dibahas dalam laporan ini adalah pengertian linguistik sinkronik menurut KBBI dan Ferdinand de Saussure

Kata sinkronis berasal dari bahasa Yunani syn yang berarti dengan, dan khronos yang berarti waktu, masa. Dengan demikian, linguistik sinkronis mempelajari bahasa sezaman. Fakta dan data bahasa adalah rekaman yang diujarkan oleh pembicara, atau bersifat horisontal. Linguistik sinkronis adalah mempelajari bahasa pada suatu kurun waktu tertentu, misalnya mempelajari bahasa Indonesia di masa reformasi saja

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sinkronik artinya segala sesuatu yang bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi di suatu masa yang terbatas.

Menurut Ferdinand pengertian linguistik secara sinkronik artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Saussure juga mengemukakan bahwa kajian bahasa secara sinkronis amat perlu, meskipun beliau banyak berkecimpung dalam kajian diakronis. Bahkan baginya, kajian sinkronis bahasa mengandung kesistematisan tinggi, sedangkan kajian diakronis tidak. Bahkan bagi penggunanya, sejarah bahasa tidak memberikan apa-apa kepada pengguna bahasa mengenai cara penggunaan bahasa. Ada yang perlu bagi pengguna bahasa, yaitu état de langue atau suatu keadaan bahasa. Suatu keadaan bahasa terbebas dari dimensi waktu dalam bahasa yang justru memiliki watak kesistematisan.

Berdasarkan uraian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa pengertian linguistik sinkronik adalah  subdisiplin ilmu linguistik yang mempelajari (mengkaji) struktur (karakter) suatu bahasa atau bahasa-bahasa dalam kurun waktu (masa) tertentu.

  1. Persamaan dan keterkaitan antara Linguistik Sinkronik dan Linguistik Diakronik

Adapun persamaan antara linguistik sinkronik dan linguistik diakronik yaitu:

  1. Mengkaji tentang bahasa
  2. Pengkajiannya bersifat ilmiah
  3. Merupakan cabang linguistic

Adapun keterkaitan antara linguistik sinkronik dan linguistik diakronik yaitu:

Linguistik sinkronik dan diakronik saling berhubungan, misalnya diadakan sebuah penelitian tentang bahasa “A” pada suatu periode dengan metode diakronik, pengkajian ini akan terbantu atau dipermudah bila pengkajian bahasa “A” pada periode tersebut menggunakan juga metode Sinkronik.

Contoh :

Misalnya kata Latin “cripus” (berombak, bergelombang, keriting), menimbulkan kata dasar Perancis crép-, yang membentuk kata kerja crépir ‘melepa’, dan décrépir, ‘mengupas lepa’. Pada suatu waktu, bahasa Perancis meminjam kata Latin décrepitus, ‘usang karena usia’, untuk membentuk décrépit; tetapi ternyata orang melupakan asal kata ini.

Contoh yang lain terdapat dalam bahasa Jerman, yaitu dalam bahasa Jerman tinggi kuno, kata jamak gast, ‘tuan rumah’, semula adalah gasti, dan jamak hant ‘tangan’ semula adalah hanti, dll. Akan tetapi, di kemudian hari, i- tersebut menjadi umlaut yang mengakibatkan a menjadi e dalam suku kata terdahulu: gasti menjadi gesti, hanti menjadi henti, tetapi kemudian (lagi) i- kehilangan bunyinya dan menghasilkan gesti menjadi geste, dst. Akibatnya, sekarang terdapat kata Gäst: Gaste, Händ: Hande, dan sejumlah besar kelompok kata yang menampilkan bentuk jamak dan tunggal. Hal ini adalah dimensi linguistik diakronik.

  1. Perbedaan langue dan parole,

parole merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan oleh para bangsawan dari suatu masyarakat bahasa.

Langue merupakan objek yang abstrak karena langue itu berwujud sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan

Secara implisit dapat ditangkap bahwa langue dan parole beroposisi, tetapi sekaligus juga saling tergantung. Itu berarti bahwa tidak ada yang lebih utama. Di satu pihak sistem yang berlaku dalam langue adalah hasil produksi dari kegiatan parole, dan di lain pihak pengungkapan parole serta pemahamannya hanya mungkin berdasarkan penelusuran sebagai sistem

Contoh :

Dua orang ibu berjalan bersama, sepulang arisan. Seorang ibu yang kebetulan letak rumahnya lebih dekat dan tiba lebih dahulu, berkata

Ibu (A) : “mari mampir”. Dalam kondisi seperti ini,

Ibu (B) : “terima kasih, lain kali”.

Apa yang hendak diperlihatkan di sini adalah “mari mampir” sebenarnya tidak menyilakan singgah seperti yang diperlihatkan oleh sistem gramatikanya, tetapi sesuai dengan pengguna bahasa tersebut, kalimat itu hanya berarti basa-basi pergaulan saja. Makna kalimat menurut pengertian seperti yang dicontohkan terakhir inilah yang menjadi perhatian dari parole. Berkenaan dengan istilah langue dan parole ini, dapat dijelaskan secara lebih sederhana, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu”

  1. Perbedaan segnifianx dan seignifie’,sebagai pembentuk signe’ linguistique,

Salah satu ciri dasar signifiant dan signifie sebagai bagian dari tanda dan tanda itu sendiri adalah sifatnya yang relatif. Justru karena langue adalah suatu sistem, bagian dari tanda itu dan tanda itu sebagai kesatuan, maka langue mendapatkan identitas dari arti hanya karena menjadi bagian  dari sistem semacam itu.

Arbitraritas tanda bahasa ini tercermin dalam pembentukan signifiant dan signifie secara sembarangan. Bertentangan dengan itu pada simbol ada kaitan antara signifiant dan signifie.

Dalam perkembangan pengertiannya untuk de Saussure, tanda adalah simbol, sedangkan simbol di bidang semiotika dalam pengertian de Saussure disebut ikon.

  1. Hubungan sintagmatik dan paragmatik

sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.

Contoh :

Saya membuat minuman

Mereka mengepel lantai

Saya membersihkan kamar mandi

rina membeli alat tulis

Pragmatik adalah kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks ditatabahasakan atau yang dikodekan pada struktur bahasa. Dengan kata lain, pragmatik adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam konteks. Pragmatik berfokus pada bagaimana penutur atau penulis menggunakan pengetahuan mereka untuk menyatakan suatu makna

Dalam pragmatik jika dalam pemakaiannya terjadi kesalahan pemakaian tatabahasa yang disengaja oleh penutur, maka dikatakan bahwa terdapat maksim(-maksim) tindak tutur yang dilanggar. Sementara itu, semantik tidak menganalisis bahasa dari sisi pemakaiannya sehingga jika terjadi kesalahan penutur yang disengaja, semantik tidak dapat menentukan meaning sesungguhnya dari penutur tersebut karena hanya didasarkan atas meaning secara umum.

Contoh:

Dalam kalimat berikut, C menjawab pertanyaan A dengan setidaknya tiga kemungkinan cara untuk menyatakan ”belum” atau “tidak ingin makan”.

A : malam ini kamu sudah makan?

C (1) : saya belum makan. Tapi saya tidak ingin makan.

C (2) : saya sudah makan barusan. (berbohong)

C(2) : saya masih kenyang, kok.

Untuk mengatakan maksudnya, B setidaknya dapat mengutarakan dengan tiga tuturan: B(1) secara langsung menyatakan maksud dan alasannya; B(2) dengan berbohong, secara tidak langsung ia menyatakan tidak ingin makan; B(3) demi alasan kesopanan, dan secara tidak langsung juga, mengimplikasikan ia tidak ingin makan. Untuk menjawab pertanyaan A, meskipun juga tidak dapat menjelaskan dengan sangat tepat, semantik hanya dapat menganalisis meaning dengan jelas pada kalimat B(1) karena kalimat tersebut secara langsung menjawab pertanyaan A, namun semantik tidak dapat menjelaskan secara tepat meaning dari B(2) dan B(3) karena B menjawabnya secara tidak langsung sehingga memerlukan pemahaman terhadap situasi di sekitarnya.

Teori Leonard Bloomfield

            Bloomfield menerangkan makna (semantic) dengan rumus rumus behaveorisme.akibatnya, makna menjadi tidak dikaji oleh linguis-linguis lain yang menjadi pengikutnya.unsur-unsur linguistik diterangkan berdasarkan distribusi unsure-unsur tersebut di dalam lingkungan di mana unsure-unsur itu berada.distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

Teori linguistik Bloomfield didasarkan pada andaian-andaian dan defenisi-defenisi karena tidak mungkin mendengarkan semua ujaran di dalam suatu masyarakat tutur.jadi, tidak mungkin kita dapa menunjukan bahwa pola pola yang kita temui dalam beberapa bahasa berlaku juga pada bahasa bahasa lain.

Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berpa unsure-unsur fokal (bunyi) yang dinamai bentuk bentuk linguistik. Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem fonem

Dalam teori linguistic bloomfield ada beberapa istilah yang perlu dikenal, yaitu sebagai berikut
Fonem adalah satuan bunyi terkecil dan distingtif dalam leksikon suatu bahasa,
contoh :

[ i ] dari kata /samping/ mempunyai jumlah kata tujuh (7) dan mempunyai jumlah fonem lima Kata samping merupakan bunyi distingtif dengan kata /simpang/.
Dari kata diatas sangat terlihat perbedaan arti dari kedua kata tersebut [a] dan [ i ].

Morfem adalah satuan atau unit terkecil yang mempunyai makna dari bentuk leksikon.

Contoh :

`           lilis meminjam buku terdapat empat morfem : Erni,me-,pinjam,dan buku.

Frase adalah unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk bebas atau lebih

Contoh :

Tante saya telah makan di warung.

            Kata diatas memiliki tiga frase,yaitu tante saya,telah makan,di warung.

Kata adalah bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas dan ditambah  bentuk-bentuk yang tidak bebas.

Contoh :

Baca,membaca,bacaan,pembaca.
baca merupakan satu kata,sadangkan mem-,an-,dan pe-, adalah bukan kata melainkan imbuhan.

Akan tetapi mem-,an-,dan pe-, baca adalah morfem.

Kalimat adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dari ujaran lain dan merupakan satu ujaran

Yang maksimum.

Contoh :

Ibu memasak di dapur,ani membaca buku,mereka menonton TV

Teori John Rupert Firth

 

Menurut firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori firth ada  konteks fonologi ,morfologi,leksikon dan situasi. Bahsa adalah susunan dari konteks konteks ini menurut firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingktan yaitu tingkatan fonetik,leksikon,morfologi,sintaksis,dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem,yang menjadi unsure dalam tingkatan morfologi adalah fonem,yang menjadi unsure dalam tingkatan sintaksis adalah kategori kategori sintaksis dan yang menjadi unsure dalam konteks situasi ini menjadi dasar teori linguistik.

Fonem dapat dikaji dalam hubungannya. Konteks fonologi terbatas pada bunyi-bunyi

“dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat,tidak selalu meragukan pada tingkatan lain.

Contoh :

[ Mata ] dalam bentuk fenotik bentuk inie masih meragukan sebab ada banyak makna yang terdapat di dalam seperti,mata kaki,mata hati,mata-mata.

Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan seni biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), dimana sendi dalam menunjukkan batas  yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:

  1. Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
  2. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
  3. Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s