Tugas 3 Psikolinguistik Armayanti

  1. Mengkaji bahasa dari teori Ferdinand De Saussure, Leonard Bloomfield dan John Rupert Firth !

Teori Ferdinand De Saussure

            Ferdinand De Saussure (1858-1913) adalah seorang linguis Swiss yang sering disebut sebagai Bapak atau Pelopor Linguistik Modern. Bukunya yang terkenal Course de Linguistque Generale(1916) diterbitkan oleh murid-muridnya, Bally dan Schehaye, berdasarkan catatan kuliah, setelah beliau meninggal. De Saussure disebut sebagai “Bapak Linguistik Modern” karena pandangan pandangannya yang baru mengenai studi bahasa yang dimuat dalam bukunya itu. Pandangan-pandangannya antara lain :

  • Telaah sinkronik dan diakronik

Aliran telaah Sinkronik dan Diakronik di prakarsai oleh Ferdinand de Saussure seorang dosen di Universitas Jenewa pada medio 1906 sampai 1911 yang juga dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern. Secara harfiyah Sinkronik berasal dari Bahasa Yunani (dengan akar kata syn = bersama dan khronos = waktu) yang artinya mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu saja misalnya, nama kota Tjakarta pada masa zaman Nippon (sekarang menjadi Jakarta). Sedangkan Diakronis (yang juga berasal dari Bahasa Yunani dia = melalui dan khronos = waktu) pengertiannya adalah mempelajari suatu bahasa sepanjang masa, artinya selama bahasa itu masih digunakan oleh penuturnya, seperti contoh bahasa melayu klasik yang menggunakan imbuhan Mer sekarang sudah diganti Me dan Ber.

Melihat definisi kedua teori ini maka bisa disimpulkan bahwa untuk mempelajari bahasa jauh lebih sulit menggunakan teori diakronik sebab harus mengetahui asal mula sebuah akar kata, terlebih hal ini nantinya berhubungan dengan dialek. Akan tetapi sebagai pengamat tentunya kita bisa mengambil sisi plus dan minus dari dua teori yang dimuat dalam buku Course de Linguistique Generale karya Ferdinand de Saussure. Misalnya sisi plus minus tersebut dalam meneliti Bahasa Indonesia dengan teori sinkronis di era Jepang, maka kemudahan peneliti adalah spesifik pada masa tersebut tanpa harus melihat Bahasa Indonesia pada kurun waktu di jajah Belanda atau pasca merdeka. Nah, sisi minus meneliti Bahasa Indonesia dengan teori diakronis adalah sangat rumit karena harus mengetahui perkembangan bahasa sejak zaman Sriwijaya, sebab harus mengetahui sebab-musabbab adanya sebuah bahasa tersebut sehingga dituturkan menjadi kata. Inilah teori yang bila dikritisi dan dikomentari pasti memiliki penilaian tersendiri karena pada setiap masa akan ditemukan metode baru dengannya.

  •   Langue, Langage dan Parole

Dalam konsep Saussure, trio Langage-langue-parole dipergunakan untuk menegaskan objek kajian linguistiknya. fenomena bahasa secara umum disebutnya langage, dimana langue memiliki segi individual dan segi sosial, sedangkan langue dan parole merupakan bagian dari langage yang memiliki kedua aspek yang ada dalam langage tersebut. Dilihat secara keseluruhan, langage adalah multi bentuk, heteroklit dan psikis, langage menjadi bagian, baik dari bidang individu maupun dari bidang sosial dan tidak dapat diklasifikasikan dalam kategori fakta kemanusiaan mana pun karena tidak dapat menonjolkan keutuhannya.

Langue adalah bahasa sebagai objek sosial yang murni, dan dengan demikian keberadaannya terletak di luar individu, yakni sebagai seperangkat konvensi-konvensi sistemik yang berperan penting di dalam komunikasi. Langue adalah bagian sosial dari langage, berada di luar individu, yang secara mandiri tidak mungkin menciptakan maupun mengubahnya. Langue hanya hadir sebagai sebuah kontrak di masa lalu di antara para anggota masyarakat. disamping sebagai institusi sosial, langue juga berfungsi sebagai sistem nilai. Bagi Saussure, langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. untuk menjelaskan langue sebagai suatu sistem, ia mengemukakan suatu perbandingan bahasa sebagai langue dapat dikomparasikan dengan main catur. Dalam Filsafat Barat XX, jilid II Perancis, K. Bertens mengemukakan sebagai berikut:

“Asal-muasal permainan catur tidak relevan untuk memahami permainan itu sendiri. juga dari bahan apa buah catur dibikin, dalam artian ia tidak menyumbang sesuatupun untuk pengertiannya. Permainan catur merupakan suatu sistem relasi-relasi di mana setiap buah catur mempunyai fungsinya. dan sistem itu dikonstituir oleh aturan-aturannya. Menambah atau mengurangi jumlah buah catur berarti mengubah sistem secara esensial. Atau mengubah aturan untuk menggerakkan kuda umpamanya berarti mengubah seluruh sistem. Demikianpun bahasa. Bahasa itu bukan substansi, melainkan bentuk saja, kata Saussure (Le langage ne’est pas une substance mais use forme).”

Kebalikan dengan langue, parole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual. parole dapat dipandang, pertama, sabagai kombinasi yang memungkinkan penutur mampu menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Di samping itu, kedua, parole pun dapat dipandang sebagai mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan penutur penampilkan kombinasi tersebut. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. karena adanya keberulangan inilah maka setiap tanda bisa menjadi elemen dari langue. Secara singkat dapat dikatakan bahwa parole merupakan penggunaan aktual bahasa sebagai tindakan individu-individu. Dalam pengertian umum, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu dan setara dengan kalam. Dengan demikian dapat dibedakan antara langue (yang histroris) dengan parole (yang a-historis).

Contoh :

“ Berapa ke Pantai Losari, Daeng?” (Parole)

“ Kita iyya, mau bayar berapa?” (Parole)

“ Lima ribu mi nah?” (Langue)

“ Tamba mi sedikit, anang ribu. Jauh Pantai Losari.” (Langage)

“ Lima ribu mi deh. Tinggal itu mi uangku. Kalo tidak mau ki’, saya cari yang lain.” (Langue)

Iyyo pade’ naik ma ki’!” (Langage)

  •   Signifiant dan Signifie

Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand De Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. “Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata Saussure. Seperti pada bagan berikut ini:

Signifie (makna)

signe linguistique (kata)                               

Signifiant (Bentuk)

Sebagai tanda linguistik, signifiant dan signifie itu biasanya mengacu pada sebuah acuan atau referen yang berbeda di alam nyata, sebagai sesuatu yang ditandai oleh signe linguistique itu. Sebagai contoh, kita ambil kata bahasa Bugis kadera yang berarti ‘kursi’ dan mengacu pada sebuah acuan, yaitu sebuah kursi. Ketiganya dapat digambarkan seperti pada bagan berikut :

‘kursi’

kadera ……………. (sebuah kursi)

(k,a,d,e,r,a)

  •  Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik

Ferdinand de Saussure membedakan adanya dua macam hubungan, yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan sintagmatik ini terdapat , baik dalam fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Umpamanya kata barangkali tidak sama dengan kalibarang, dan kata tertua tidak sama dengan kata tauter. Hubungan sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat di ubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tak bermakna sama sekali. Perhatikan contoh kalimat 1 yang urutan katanya bisa diubah tanpa mengubah makna kalimat; dan cotoh kalimat 2 yang urutan katanya diubah menyebabkan makna kalimatnya berubah.

Contoh kalimat 1 :

Hari ini barangkali dia sakit
Barangkali dia sakit hari ini
Dia sakit hari ini barangkali
Dia sakit barangkali hari ini

Contoh kalimat 2 :

Nia melihat Dika Dika melihat Nia
Ini bir baru Ini baru bir

Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah, hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara substitusi, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis. Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi, tampak pada contoh 3. Antara bunyi/r/k/b/m/, dan /d/ yang terdapat pada kata-kata rata, kata, batamata, dan data. Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi tampak pada contoh 4 antara prefix me-di-pe, dan te- yang terdapat pada kata-kata; merawat, dirawat, perawat, dan terawat. Sedangkan hubungan paradigmatik pada tataran sintaksis, dapat dilihat pada contoh 5 antara kata-kata yang menduduki fungsi subjek, predikat, dan objek.

Contoh :
rata

kata

bata

mata

data

Teori Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949), pakar linguistik bangsa Amerika dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Kemudian, sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt, lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teori bahasanya yang kini dikenal sebagai linguistik structural atau linguistik taksonomi.

Jika Anda percaya bahwa manusia pada umumnya dipengaruhi oleh ransangan (stimulus) dan reaksi (respons), kebiasaan (habit), kondisi (conditioning), penguatan (reinforcement), atau hadiah (rewards), dan hukuman (punishment), maka Anda adalah seorang behahavioris entah Anda menyadarinya atau tidak. Bagi behavioris, belajar adalah berhubungan dengan pemerolehan kebiasaan, yakni belajar sesuatu berarti membuatnya menjadi kebiasaan. Kunci dari pembelajaran adalah imitasi, dankondisi melalui penguatan. Penguatan itu dapat positif (dalam bentuk hadiah) dapat juga negatif (dalam bentuk hukuman).Proses pembentukan kebiasaan atau pembelajaran diperoleh dengan cara inductive yakni pembiasaan itu diperoleh dengan cara tanpa instruksi eksplisit.Skinner menyebutnya sebagai kondisi pelaksanaan (operant conditioning). Beginilahcontoh pelaksanaannya dalam pemerolehan bahasa:

  • Seorang anak kecil mendengar kata “bola” beberapa kali dari pengasuhnya.Aksi ini disebut ransangan. Dan sebagai reaksi, si anak menirunya denganmenyebut pula “bola”. Tingkah laku si anak meniru menyebut “bola” disebut operant .
  •  Pengasuh memberikan bola tersebut untuk bermain. Sehingga anak tersebutmemperoleh hadiah dari pengucapannya yang telah mengucapkan kata“bola”. Ini adalah contoh dari penguatan positif, dalam hal ini karena si anak mengucapkan kata yang benar. Jika seandainya si anak mengucapkan,umpamanya, “pola” maka pengasuhnya tidak akan memberikan bola. Dengan tidak memberikan bola berarti terjadi penguatan negatif.
  • Karena hadiah atau penguatan positif maka si anak teransang dan beranimenucapkan kata “bola” lagi, dan lagi si anak diberikan bola untuk bermain.Sehingga pada akhirnya si anak mengassosiasikan objek tersebut dengan kata“bola”.
  • Proses berulang hingga pengucapan kata dan assosiasinya (“bola”) menjadi suatu kebiasaan Anak, kemudian, belajar kata “bola” dan maknanya.
  • Sebaliknya, jika dia mengucapkan kata “pola”, penguatan negatif akanmembuat dia tidak mengucapkannya lagi – dengan demikian tidak akanterbentuk suatu kebiasaan (sebagai pilihan, Anda dapat menjelaskan bahwakata “pola” tidak punya hubungan dengan benda tersebut yang disebut “bola”).

Penting untuk dikemukakan bahwa ada tiga asumsi pemerolehan bahasa menurut behaviorist adalah pertama manusia ketika baru lahir seperti kertas kosong atau dalam bahasa Latin disebut sebagai tabula rasa.Dengan kata lain, faktor penting dalam pembelajaran adalah faktor lingkungan, dan anak-anak belajar dari lingkungannya.Dalam hubungannya dengan pemerolehan bahasa, anak-anak mendengar bahasa dan respons dari lingkungannya sehingga proses pembelajaran terjadi.

Teori John Rupert Firth

John Rupert Firth (1890-1960) adalah seorang linguis Inggris yang pada tahun 1944 mendirikan sekolah linguistik deskriptif di London. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi.  Beliau sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama aliran Prosodi.

Fonologi prosodi terdiri dari satuan-satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segmental, yaitu konsonan dan vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang dari pada suatu segmen tunggal. Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :

1)  Prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vokal;

2)Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda;  frosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda artinya jeda atau persendian mempunyai hubungan erat dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Kenapa disebut jeda? Yakni karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen  yang satu dengan segmen yang lainnya.

3)  Prosodi yang realisasi fonetisnya melampui satuan yang lebih besar daripada fonem-fonem suprasegmental.

Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan seni biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), dimana sendi dalam menunjukkan batas  yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:

  1. Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
  2. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
  3. Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#)

Sehingga dapat diketahui bersama bahwa dalam bahasa Indonesia sangat penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat

  • Frosodi yang realisasi fonetisnya melampaui yang lebih besar dari pada fonem-fonem sopra segmental. Artinya bahwa arus ujaran merupakan tuntutan bunyi sambung bersambung terus menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental; tetapi berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi supra segmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur supra segmental ini biasanya dibedakan pula atas; tekanan atau stress, nada atau pitch, jeda atau persendian.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s