tugas 3, psikolinguistik

Mengkaji Bahasa Menurut Teori Ferdinand De Saussure, Leonard Bloomfield, dan John Rupert Firth.

  1. Teori Ferdinand De Saussure

Ferdinand de Saussure (lahir di Jenewa, 26 November 1857 – meninggal di Vufflens-le-Château, 22 Februari 1913 pada umur 55 tahun) adalah linguis Swedia yang dipandang sebagai salah satu Bapak Linguistik Modern  dan semiotika. Karya utamanya, Cours de linguistique générale  diterbitkan pada tahun 1916, tiga tahun setelah kematiannya, oleh dua orang mantan muridnya, Charles Bally and Albert Sechehaye, berdasarkan catatan-catatan dari kuliah Saussure di Paris. Konsepnya yang paling terkenal adalah pembedaan tanda bahasa menjadi dua aspek, yaitu signifiant (yang memaknai) dan signifie (yang dimaknai). Dalam semiologi, Saussure berpendapat bahwa bahasa sebaigai “suatu sistem tanda yang mewujudkan ide” dapat dibagi menjadi dua unsur: langue (bahasa), sistem abstrak yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan parole (ujaran), realisasi individual atas sistem bahasa.

Telaah Sinkronik dan Diakronik

Secara harfiyah Sinkronik berasal dari Bahasa Yunani (dengan akar kata syn = bersama dan khronos = waktu) yang artinya mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu saja misalnya, nama kota Djember pada masa zaman Nippon (sekarang menjadi Jember)

Sedangkan Diakronis (yang juga berasal dari Bahasa Yunani dia = melalui dan khronos = waktu) pengertiannya adalah mempelajari suatu bahasa sepanjang masa, artinya selama bahasa itu masih digunakan oleh penuturnya, seperti contoh bahasa melayu klasik yang menggunakan imbuhan Mer sekarang sudah diganti Me dan Ber

Melihat definisi kedua teori ini maka bisa disimpulkan bahwa untuk mempelajari bahasa jauh lebih sulit menggunakan teori diakronik sebab harus mengetahui asal mula sebuah akar kata, terlebih hal ini nantinya berhubungan dengan dialek

Akan tetapi sebagai pengamat tentunya kita bisa mengambil sisi plus dan minus dari dua teori yang dimuat dalam buku Course de Linguistique Generale karya Ferdinand de Saussure. Misalnya sisi plus minus tersebut dalam meneliti Bahasa Indonesia dengan teori sinkronis di era Jepang, maka kemudahan peneliti adalah spesifik pada masa tersebut tanpa harus melihat Bahasa Indonesia pada kurun waktu di jajah Belanda atau pasca merdeka. Nah, sisi minus meneliti Bahasa Indonesia dengan teori diakronis adalah sangat rumit karena harus mengetahui perkembangan bahasa sejak zaman Sriwijaya, sebab harus mengetahui sebab-musabbab adanya sebuah bahasa tersebut sehingga dituturkan menjadi kata.

Langue, Langage dan Parole

Trio langage-langue-parole digunakan Saussure untuk menegaskan objek linguistik. Fenomena bahasa secara umum disebutnya langage, sedangkan langue dan parole merupakan bagian dari langage. Parole adalah manifestasi individu dengan bahasa yang mengindividukan makna; sedangkan langue adalah langage dikurangi parole, yakni bahasa dalam proses sosial. Saussure dalam hal ini lebih menitikberatkan studi linguistik pada langue. (Saussure, 1988:75).

Langue merupakan bahasa sebagai objek sosial yang murni dan dengan demikian keberadaannya diluar indifidu, sebagai seperangkat konvensi-konvensi sistemik yang berperan penting dalam komunikasi. Langue merupakan sistem sosial yang otonom, yang tidak bergantung kepada materi-tanda-tanda pembentuknya. Sebagai sebuah institusi sosial, langue bukan sama sekali sebuah tindakan dan tidak bisa pula dirancang atau diciptakan atau diubah secara pribadi, karena pada hakikatnya langue merupakan kontrak kolektif yang sungguh-sungguh harus dipatuhi bila kita ingin berkomunikasi, singkat kata langue adalah bahasa dalam wujudnya sebagai suatu sistem.

Berkebalikan dengan langue, pareole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual. Parole dapat dipandang, pertama-tama, sebagai kombinasi yang memungkinkan subjek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Disamping itu, ia juga dapat dipandang sebagai mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi tadi. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. Karena merupakan aktivitas kombinatif maka parole terkait dengan penggunaan indifidu dan bukan semata-mata bentuk kreasi. Singkatnya, parole merupakan penggunaan aktual bahasa sebagai tindakan individu-individu.

contohnya yaitu “permainan catur”. Para pemain sebagai “komunitas pecatur” menguasai kaidah permainan tersebut, yakni langue,  antara lain aturan tentang cara menjalankan setiap jenis bidak catur, misalnya “kuda” mengikuti gerakan “huruf L”, “raja” hanya bisa bergerak satu kotak demi satu kota, “ratu” dapat bergerak melewati semua kotak kecuali berjalan secara diagonal, dan seterusnya. Kaidah itu mengarahkan bagaimana pecatur harus menjalankan bidaknya, yaitu parole.

contoh percakapan yang menggunakan langu, parole, langage.

Mia : panas ya? (langue)

Arma : mau dinyalakan kipas anginnya kah ? (sambil menunjuk kipas angin). (parole)

Mia : iya, nyalakan mi. (langage)

Signifiant dan Signifie

Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual).

Sebagai contoh, kita ambil kata bahasa Inggris book yang berarti ‘buku’ dan mengacu pada sebuah acuan, yaitu sebuah buku. Ketiganya dapat digambarkan seperti pada bagan berikut :

‘buku’

book ……………. (sebuah buku)

(b,o,o,k)

Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik

salah satu konsep dikotomis yang dikemukakan de Saussure ini merupakan salah satu konsep perlu dipahami. Mengapa? Karena menurutnya, bentuk-bentuk bahasa dapat diuraikan secara cermat dengan meneliti hubungan paradigmatik dan hubungan sintagmatik dalam bahasa.

Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan. Menurut Kridalaksana, hubungan sintagmatik ini bersifat linear. Misalnya dalam kalimat “Saya menulis artikel”, terdapat hubungan sintagmatik antara saya, menulis dan artikel dalam pola kalimat SPO (Subyek – Predikat – Obyek).

Sedangkan hubungan paradigmatik, menurut Kridalaksana, merupakan hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam tataran tertentu dengan unsur-unsur lain di luar tataran itu yang dapat dipertukarkan. Dalam kalimat di atas “Saya menulis artikel” kata “Saya” dapat dipertukarkan dengan kalimat sejenis. Karena unsur kata “Saya” merupakan kata benda dan hidup (animate) yang berfungsi sebagai subyek dalam kalimat tersebut, maka kata “saya” dapat dipertukarkan dengan kata “adik”, “Budi”, atau “Orang” itu.

Senada dengan pemaham di atas, Jakobson muncul dengan istilah “axis” (poros) yang artinya hubungan. Dua poros tersebut adalah poros sintagmatik dan poros paradigmatik. Dapat dikatakan bahwa poros sintagmatik merupakan poros horisontal, sedangkan poros paradigmatik merupakan poros vertikal. Kita bisa memerikan penjelasan ini dengan gambar:

Keterangan

X: poros sintagmatik

Y: poros paradigmatik

de Saussure memperjelas gagasannya dengan memberi analogi sebuah tiang bangunan. Tiang itu berhubungan satu sama lain dan dengan bagian lain dari bangunan (secara sintagmatik) dan berhubungan dengan jenis tiang lain yang bisa saja dipergunakan atau dipertukarkan (paradigmatik). Pemahaman tersebut bisa diterapkan dalam contoh berikut ini.

Paradigmatik (vertikal) Paradigmatik (vertikal) Paradigmatik (vertikal) ——————–
Saya menulis artikel Sintagmatik (horisontal)
Ibu membaca surat Sintagmatik (horisontal)
Orang itu membeli buku Sintagmatik (horisontal)

2.      Teori Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949), pada perkembangan ilmunya banyakdipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang bertentangan, yakni behaviorismedan mentalisme. Pada awalnya, linguis Amerika ini mengkaji bahasadengan pendekatan mentalisme. Dia berpendapat bahwa berbahasa dimulaidari melahirkan pengalaman luar biasa , terutama karena penjelmaan tekananemosi yang sangat kuat. Karena tekanan emosi itulah maka akan keluarucapan atau kalimat berbentuk eklamasi, lalu keluar keinginan berkomunikasiberupadeklarasi. Jika keinginan deklasi ini keluar dalam bentukkeingintahuan maka keluarlah interogasi. Pada tahun 1925 Bloomfieldmeninggalkan aliran empirisme dan beralih pada aliran behaviorisme, yang

memunculkan teori bahasa “linguistik struktural” dan “linguistiktaksonomi”.

Misalnya seorang anak berjalan bersama ibunya dan melewati sebuah gedungyang memiliki atap unik ciri khas sebuah masjid. Si anak kemudian bertanya:

“Ibu,itu apa namanya?”

“Itu masjid namanya, sayang

” jawab si ibu. Kemudian si anak terangsang bertanya lebih lanjut,

“Apa itu masjid, bu?”.

“Tempat orang berdoa dan sholat bagi orang yang beragama Islam”

Jawab si Ibu. Bandingkan bila jawaban ibuatas pertanyaan yang sama menjawab “

Itu kan hanya sebuah gedung biasa. Kenapa sih tanya-tanya?”

Terakhir, dalam ide penguatan positif dan penguatan negatif pembelajaran pembentukan tingkah laku manusia, behaviorismememperkenalkan pentingnya motivasi dan feedback

dalam pembelajaran bahasa sebagai suatu alat. Walaupunini adalah sesuatu issu yang kompleks tetapi behaviorist memahami bahwa penguatan adalah sesuatu yang berharga dan pembelajaran tidak dapat berjalan tanpaadanya motivasi dan feedback.

3.      Teori John Rupert Firth

Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.

Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan.

Fonem dapat dikaji dalam hubungannya dengan kata. Konteks fonologi terbatas pada bunyi-bunyi “dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan lain.

Misalnya, bentuk /kèpala] dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.

 

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s