TUGAS III PSIKOLINGUISTIK

TEORI FERDINAND DE SAUSSURE

Lahir pada tahun 1875, dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915 (jadi, dua tahun setelah de Saussure meninggal) berdasarkan catatan kuliah selama de Saussure memberi kuliah di Universitas Jenewa tahun 1906-1911. Buku tersebut sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, kedalam bahasa Inggris diterjemahkan oleh Wade Baskin (terbit 1996) dan kedalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Rahayu Hidayat (terbit 1988).Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut :

(1) Telaah Sinkronik dan Diakronik

Ferdinand de Saussure membedakan telaah bahasa secara sinkronik dan telaah bahasa secara diakronik. Yang dimaksud dengan telaah bahasa secara sinkronik, adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Misalnya, mempelajari bahasa Indonesia yang digunakan pada zaman Jepang atau pada masa tahun lima puluhan. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik, adalah telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya.

Jadi, kalau mempelajari bahasa Indonesia secara diakronik, maka harus dimulai sejak zaman Sriwijaya sampai zaman sekarang ini. Dengan demikian bisa dikatakan, telaah bahasa secara diakronik adalah jauh lebih sukar daripada telaah bahasa secara sinkronik. Sebelum terbit buku tersebut, telaah bahasa selalu dilakukan orang secara diakronik, tidak pernah secara sinkronik. Ahli-ahli pada waktu itu belum sadar, bahwa bahasa dapat diteliti secara sinkronik. Inilah salah satu pandangan de Saussure yang sangat penting sehingga sekarang kita dapat memberikan pemerian terhadap suatu bahas tertentu tanpa melihat sejarah bahasa itu.

(2) La Langue dan La Parole

De Saussure membedakan antara parole, langue, clan langage. Ke­ tiganya bisa dipadankan dengan kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan pengertian yang sangat berbeda.

Parole adalah bahasa yang konkret yang keluar dari mulut seorang pembicara. Jadi, karena sifatnya yang konkret itu maka parole itu bisa didengar.

Langue adalah bahasa tertentu sebagai satu sistem tertentu seperti bahasa Inggris atau bahasa Jawa menggunakan istilah bahasa. Jadi, sifatnya abstrak; hanya ada dalam otak penutur bahasa yang bersangkutan.

contoh: jika langage adalah Bahasa Indonesia, maka langue adalah kaidah Bahasa Indonesia, sedangkan parole adalah penggunaan Bahasa Indonesia oleh individu-individu. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini adalah sebagai berikut:

Suatu ketika dalam percakapan di kampus

Arfiana: lika

Lika: apa

Arfiana: mau kemana kamu?

Seorang teman tiba-tiba memotong pembicaraan sambil membenarkan struktur kalimat yang Arfiana ucapkan.

Erni: struktur kalimat yang kamu ucapkan kurang sesuai dengan gramatika Bahasa Indonesia seharusnya kamu ucapkan “kamu mau ke mana? atau kamu mau pergi ke mana?

Lanjut Erni sambil menjelaskan

struktur bahasa Indonesia adalah ‘subyek + predikat (kata kerja) atau subyek + keterangan tempat’ membetulkan kalimat yang sebelumnya Arfiana  ucapkan “mau ke mana kamu?

Dalam percakapan di atas, struktur Bahasa Indonesia yang disodorkan oleh Erni berlaku sebagai Langue yakni kaidah-kaidah yang berlaku. Sedangkan kalimat  yang Arfiana  ucapkan adalah Parole yakni praktik berbahasa dalam kehidupan masyarakat. Sebelumnya dijelaskan bahwa Langue dan Parole berada pada posisi dikotomis. Dalam konteks ini, langue dipahami sebagai pola umum (kolektif) yang berlaku dalam sebuah bahasa pada contoh di atas disebut sebagai ‘struktur Bahasa Indonesia’ sedangkan parole merupakan ucapan individual sebagai  manifestasi dari Langue yang telah ada pada kognisi manusia.

 (3) Significant dan Signifie

Ferdinand de Saussure mengemukakan teori, bahwa setiap tanda atau tanda linguistik (signe atau signe linguistique) dibentuk oleh dua buah komponen yang tidak terpisahkan, yaitu komponen signifiant dan komponen signifie. Yang dimaksud dengan signifiant adalah, citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam fikiran kita. Sedangkan signifie, adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam fikiran kita. Untuk lebih jelas, ada yang mengatakan signe itu sama dengan kata; signifie sama dengan makna; dan signifiant sama dengan bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu. Hubungan antara signifiant dengan signifie sangat erat, karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Perhatikan bagan berikut :

Signifie

(makna)

signe linguistique

(kata)                                 ———————

Signifiant

(Bentuk)

Sebagai tanda linguistik, signifiant dan signifie itu biasanya mengacu pada sebuah acuan atau referen yang berbeda dialam nyata, sebagai sesuatu yang ditandai oleh signe linguistique itu. Sebagai contoh, kita ambil kata bahasa Jawa wit yang berarti ‘pohon’ dan mengacu pada sebuah acuan, yaitu sebuah pohon. Ketiganya dapat digambarkan sebagai bagan berikut :

‘pohon’

wit ……………. (sebuah pohon)

(w,i,t)

(4) Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik

Ferdinand de Saussure membedakan adanya dua macam hubungan, yaitu hubungan sintagmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan sintagmatik ini terdapat, baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem dengan urutan /k, i, t, a, b/. Apabila urutannya diubah, maka maknanya akan berubah, atau tidak bermakna sama sekali.

Perhatikan pada bagan berikut :

k          i           t           a          b

b          a          k          t           i

t           i           k          a          b

k          a          t           i           b

b          a          t           i           k

Hubungan sintagmatik pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata, yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah, tetapi ada kemungkinan pula tak bermakna sama sekali. Umpamanya kata segiempat tidak sama dengan empatsegi,kata barangkali tidak sama dengan kalibarang, dan kata tertua tidak sama dengan tuater. Hubungan sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tidak bermakna sama sekali. Perhatikan contoh kalimat dibawah ini yang urutan katanya bisa diubah tanpa mengubah makna kalimat, yaitu :

Hari ini dia tidak datang karena hujan

Karena hujan hari ini dia tidak datang

Dia tidak datang karena hujan hari ini

Dia tidak datang hari ini karena hujan

Dan contoh kalimat berikut yang urutan katanya diubah menyebabkan makna kalimatnya berubah, yaitu:

Nita memanggil Dika                             Dika memanggil Nita

Ini baju baru                                            Ini baru baju

Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara subtitusi, baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis. Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi tampak pada contoh: antara bunyi /r/, /k/, /b/, /m/, dan /d/ yang terdapat pada kata rata, kata, bata, mata, dan data.

rata

kata

bata

mata

data

Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi tampak pada contoh: antara prefiks me-, di-, pe-, dan te-. Yang terdapat dalam kata merawat, dirawat, perawat, dan terawat.

me rawat

di rawat

pe rawat

te rawat

Sedangkan hubungan paradigmatik pada tataran sintaksis dapat dilihat pada contoh antara kata-kata yang menduduki fingsi subjek, predikat, objek adalah:

Dina membeli bunga

Saya mencuci baju

Dini menulis suratt

Secara lengkap sintagmatik dan hubungan paradigmatik dapat kita gambarkan sebagai berikut :

Sintagmatik

Dina                 membeli                        bunga

Saya                mencuci                          baju

Dini                  menulis                          surat

Ali                    membaca                       koran

 

TEORI LEONARD BLOOMFIELD

Ahli bahasa yang diberi nama American Structuralism. Merupakan seorang ahli psikologi behaviourisme. Menghasilkan karya agung yang berjudul Language (1933).Konsep yang dibawa oleh beliau telah dijadikan sebagai aliran struktural. Beliau menyatakan bahawa apa pun yang dilafazkan pasti mempunyai struktur.Contoh: jika menyebut rumah, maka strukturnya ialah [rumah] bukan [hamur] atau [maruh].Pandangan Bloomfield berasaskan teori Behaviorisme, yaitu yang beranggapan bahwa tingkah laku manusia dapat ditanggapi oleh indera. Skema Tindak Tutur (Teori Behaviorisme)

Setiap rangsangan (stimulus) akan mewujudkan tindak balas (respons).

s       = rangsangan penutur (seseorang berujar)

r-s   = berlaku proses pengubahsuaian data (ujaran)

r       = pendengar melahirkan gerak balas (tanggapan pendengar)

Disesuaikan dengan sebuah cerita tentang Jack (lelaki) dan Jill (perempuan).

Jill yang merasa lapar tiba-tiba melihat sebuah apel(s).

Jill lalu membuat bising dengan menggunakan tenggorokan (larynx), lidah dan bibir (r).

Jack mendengar bunyi yang dihasilkan oleh Jill (s)

lalu memetik apel yang diminta oleh Jill (r).

Dalam teori linguistic Bloomfield ada beberapa istilah/ trem yang perlu dikenal yaitu berikut ini.

Fonem

  • Adalah unit satuan bunyi terkecil yang membedakan arti.
  • Huruf adalah lambang / gambar fonem

Contoh:

Kata                      jum;ah Huruf               Jumlah Fonem

Saya                                  4                                  4

Sayang                              6                                  5

Pulau                                 5                                  4

Dia                                                3                                  3

Melalui                              7                                  7

Menyampaikan                  12                                10

Menjumpai                        9                                  9

Menamai                           7                                  7

Mengunjunginya               14                                11

Ia                                       2                                  2

Morfem

  • Adalah kesatuan yang ikut dalam pembentukan kata yang dapat dibedakan artinya.

Morfem dibagi menjadi :

Morfem Bebas

Bentuk bebas / dapat berdiri sendiri

biasanya kata dasar : Pergi, lari, makan

Morfem Terikat

Bentuknya terikat / tidak dapat berdiri sendiri

Biasanya iimbuhan , Terdiri dari :

Prefiks (Awalan) : me-, ber-, di-, ke-, dsb.

infiks (Sisipan) : -el- -em- er-

Contoh : Telunjuk, gemetar

Sufiks (akhiran) : -kan , -an , -i

Konfliks ( Gabungan imbuhan yang membentuk arti bari)

Frasa

frasa adalah gabungan kata yang mana setiap kata tetap mempertahankan makna masing-masing dan gabungan kata tersebut tidak melewati batas fungsi. Dalam sebuah frasa hanya terdapat satu kata sebagai unsur inti atau unsur pusat. Kata-kata yang lain hanyalah sebagai unsur penjelas.

Contoh frasa:

            rumah saya, sedang makan, sangat banyak, di kampus, sepuluh ekor,

Kata

Bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas dan ditambah bentuk-bentuk yang tidak bebas

Contoh kata: makan, rumah, pakaian.

Kalimat

Adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dari  ujaran lain dan merupakan satu ujaran yang maksimum.

            Contoh kalimat:

            Hai!

            Ini Budi, Budi bermain bola.

            Aku akan pergi jika hujan sudah reda.

            Ketika nenek datang, ayah sedang membaca koran dan ibu sedang memasak

 

TEORI JOHN RUPERT FIRTH

John Rupert Firth(1908-1960)

  1. Linguis Inggris, mementingkan konteks
  2. Konteks: fonologi, morfologi, leksikon, situasi
  3. Teori Penting Firth

Konteks situasi untuk menentukan arti

Analisis prosodi dalam fonologi

  1. Menolak setiap usaha yang memisahkan bahasa dari konteksnya dalam kehidupan manusia dan budaya
  2. Makna merupakan jantung pengkajian bahasa
  3. Semua analisis linguistik harus mengenai makna
  4. Makna itu ada gramatikal dan fonologi
  5. Makna gramatikal: makna dari yang mendahului dan mengikuti unsur-unsur, dalam kata maupun konstruksi (gagasan) terkait dengan paradigma

Pada tahun (1890-1960) seorang guru besar pada Universitas London yang bernama John R. Firth telah mengemukakan sebuah teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, teori yang dikembangkannya tersebut kemudian dikenal dengan nama aliran Forosodi; tetapi disamping itu dikenal pula dengan nama aliran firth, atau aliran Firthian, atau aliran London.

Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk  menentukan arti pada  tataran fonetis. Dimana fonologi prosodi tersebut terdiri dari satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segemental; yakni konsonan, vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal.

Aliran London atau biasa juga disebut fonologi prosodi adalah  suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Dimana arti pada pokok tataran fonematis tersebut yaitu berupa unsur-unsur segemental (consonant  dan vokal).

Dan adapun pokok-pokok prosodi tersebut terbagi atas tiga macam yakni sebagai berikut:

  • Frosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal
  • Frosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda artinya jeda atau persendian mempunyai hubungan erat dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Kenapa disebut jeda? Yakni karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen  yang satu dengan segmen yang lainnya.

Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan seni biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), dimana sendi dalam menunjukkan batas  yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:

  1. Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
  2. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
  3. Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#)

Sehingga dapat diketahui bersama bahwa dalam bahasa Indonesia sangat penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat

  • Frosodi yang realisasi fonetisnya melampaui yang lebih besar dari pada fonem-fonem sopra segmental. Artinya bahwa arus ujaran merupakan tuntutan bunyi sambung bersambung terus menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental; tetapi berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi supra segmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur supra segmental ini biasanya dibedakan pula atas; tekanan atau stress, nada atau pitch, jeda atau persendian.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s