TUGAS 3 PSIKOLINGUISTIK

TUGAS PSIKOLINGUISTIK

      • Mengkaji Bahasa Menurut Teori Ferdinand De Saussure, Leonard Bloomfield, dan John Rupert Firth.

1.     Teori Ferdinand De Saussure

Ferdinand de Saussure merupakan salah satu  Bapak Linguistik Modern. Dalam semiologi, Saussure berpendapat bahwa bahasa sebagai “suatu sistem tanda yang mewujudkan ide” dapat dibagi menjadi dua unsur: langue (bahasa), sistem abstrak yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan parole (ujaran), realisasi individual atas sistem bahasa.

 

Langue, Langage dan Parole

Menurut Saussure, langue bukanlah kegiatan penutur, langue merupakan produk yang direkam individu secara pasif. Sebaliknya, parole adalah suatu tindakan individual dari kemauan dan kecerdasannya. Langue adalah suatu benda tertentu di dalam kumpulan heteroklit peristiwa-peristiwa langage. Dia adalah bagian sosial dari langage, berada di luar individu, yang secara mandiri tidak mungkin menciptakan maupun mengubahnya. Langue hanya hadir sebagai hasil semacam kontrak di masa lalu di antara para anggota masyarakat.

Ferdinand de Saussure (1916) umpamanya membedakan pemakaian bahasa ke dalam istilah Langage, Langue, dan Parole. Ketiga istilah yang berasal dari bahasa Perancis tersebut, dalam bahasa Indonesia padanannya disebut dengan bahasa, padahal ketiganya mempunyai pengertian yang sangat berbeda, walaupun ketiganya bersangkut paut dengan bahasa. Langage adalah sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal diantara sesama pemakai bahasa. Langage ini bersifat abstrak dan juga bersifat universal, sebab langage adalah satu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia pada umumnya, bukan manusia pada suatu tempat atau masa tertentu. Dalam bahasa Indonesia langage bisa dipadankan dengan kata bahasa seperti terdapat dalam kalimat “ manusia mempunyai bahasa, binatang tidak”. Jadi, penggunaan istilah bahasa dalam kalimat tersebut, sebagai padanan kata langage, tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu, melainkan mengacu pada bahasa umumnya sebagai sarana komunikasi manusia.

Istilah kedua dari konsep de Saussure tentang bahasa adalah langue, langue adalah sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Langue mengacu pada satu sistem lambang bunyi tertentu yang jika dipadankan dengan bahasa dalam bentuk kalimat “Joni belajar bahasa Arab, sementara Taufik belajar bahasa Sunda”. Sebagaimana langage, langue juga punya pola, keteraturan, atau kaidah-kaidah yang dimiliki manusia, akan tetapi kaidah-kaidah itu bersifat abstrak alias tidak nyata-nyata digunakan.
Jika istilah langage dan langue bersifat abstrak, maka istilah yang ketiga dari konsep Saussure tentang bahasa yaitu Parole itu bersifat konkret. Karena parole itu merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran/tuturan yang dilakukan oleh anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam bahasa Indonesia bisa dipadankan dengan bahasa dalam kalimat “ Kalau Kiayi Abd Wafi pidato, bahasanya penuh dengan kata demikian”. Jadi parole itu bersifat nyata, dan dapat diamati secara empiris.

 

Contoh percakapan

Anis     : (Duduk sambil membaca sebuah buku)

Lisa,, apa itu caput succedeneum,?

Lisa     : apa itu kagh??

Anis     :kalau  yang ku liat di sini (memperlihatkan tulisan buku yang dibacanya)   masuk bagian dari  trauma lahir

Lisa     :oowgh,,

mmm… (bergumam),,,  kalau yang ku tau saya itu semacam pembengkakan pada kepala karena ada kayak timbunan getah bening kayak air di bawa lapisan,, hmmm apa itu,, ee apone,,,  lapisan aponeros..

Anis     : apa pale kalau cepthalhematona?

Lisa     :kalau itu, sama ji pembengkakan juga tapi kalau ini disebabkan karena adanya penumpukan darah.

Anis     :owg,,

 

Langue : Dalam dialog tersebut dapat dilihat ketika Anis bertanya kepada Lisa mengenai pengertian caput succedeneum, di situ dapat diketahui ketika Lisa mengatakan hmmm (bergumam) artinya dia memiliki konsep atau pengetahuan yang ada dipikirannya. Hal tersebut yang menjadi langue. Langue dapat diketahui ketika dikeluarkan lewat alat ucap atau yang disebut dengan parole.

Parole   : Dalam dialog tersebut yang menjadi parole misalnya ketika Lisa menjelaskan atau mengatakan “mmm… (bergumam),,,  kalau yang ku tau saya itu semacam pembengkakan pada kepala karena ada kayak timbunan getah bening kayak air di bawa lapisan,, hmmm apa itu,, ee apone,,,  lapisan aponeros..”

Hal tersebut dikatakan parole karena parole itu bersifat konkret atau bisa didengar.

Langage: Dari percakapan di atas dapat dilihat dari bahasa yang digunakan Anis dan Lisa dalam berinteraksi atau berkomunikasi.

      1. 2.     Teori Leonard  Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949) seorang tokoh linguistik Amerika, sebelum mengikuti aliran behaviorisme dari Watson dan Weiss, adalah seorang penganut paham mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt. Kemudian beliau menentang mentalisme dan mengikuti aliran perilaku atau behaviorisme. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik Amerika, terutama di sekolah linguistik Yale yang didirikan menurut ajarannya. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme. Akibatnya, makna menjadi tidak dikaji oleh linguis-linguis lain yang menjadi pengikutnya. Unsur¬-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan (environment) di mana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika. Disebut aliran Bloomfield karena bermula dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.

Teori linguistik Bloomfield didasarkan pada andaian-andaian dan defenisi-defenisi karena tidak mungkin mendengarkan semua ujaran di dalam suatu masyarakat tutur.jadi, tidak mungkin kita dapa menunjukan bahwa pola pola yang kita temui dalam beberapa bahasa berlaku juga pada bahasa bahasa lain. Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berpa unsure-unsur fokal (bunyi) yang dinamai bentuk bentuk linguistik. Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem-fonem.

Dalam teori linguistic bloomfield ada beberapa istilah yang perlu dikenal, yaitu sebagai berikut:

Fonem adalah satuan bunyi terkecil dan distingtif dalam leksikon suatu bahasa,
contoh :

[ i ] dari kata /samping/ mempunyai jumlah kata tujuh (7) dan mempunyai jumlah fonem lima Kata samping merupakan bunyi distingtif dengan kata /simpang/.
Dari kata diatas sangat terlihat perbedaan arti dari kedua kata tersebut [a] dan [ i ].

Morfem adalah satuan atau unit terkecil yang mempunyai makna dari bentuk leksikon.

Contoh :

`           lilis meminjam buku terdapat empat morfem : Erni,me-,pinjam,dan buku.

Frase adalah unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk bebas atau lebih

Contoh :

Tante saya telah makan di warung.

            Kata diatas memiliki tiga frase,yaitu tante saya,telah makan,di warung.

Kata adalah bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas dan ditambah  bentuk-bentuk yang tidak bebas.

Contoh :

Baca,membaca,bacaan,pembaca.
baca merupakan satu kata,sadangkan mem-,an-,dan pe-, adalah bukan kata melainkan imbuhan. Akan tetapi mem-,an-,dan pe-, baca adalah morfem.

Kalimat adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dari ujaran lain dan merupakan satu ujaran yang maksimum.

Contoh :

Ibu memasak di dapur,ani membaca buku,mereka menonton TV

      1. 3.     Teori John Rupert Firth

Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan. Konteks fonologi terbatas pada bunyi-bunyi “dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan lain. Misalnya, bentuk /kèpala] dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.

Arti atau makna menurut teori Firth adalah hubungan antara satu unsur pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Jadi, arti tiap kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu berikut ini.

1.    l. Hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).

2.    Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.

3.    Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, clan hubungannya dengan kata itu.

4.    Jenis kalimat clan bagaimana kalimat itu digolongkan.

5.    Hubungan kalimat dengan konteks situasi.

Ada dua jenis perkembangan dalam ilmu linguistik yang selalu dikaitkan dengan Firth, yaitu (a) teori konteks situasi untuk menentukan arti, (b) analisis prosodi dalam fonologi. Teori konteks situasi ini menjadi dasar teori linguistik Firth; beliau menolak setiap usaha untuk memisahkan bahasa dari konteksnya dalam kehidupan manusia dan budaya. Firth menekankan bahwa makna merupakan jantung dari pengkajian bahasa. Semua analisis linguistik dan pernyataan-pernyataan tentang linguistik haruslah merupakan analisis dan pernyataan mengenai makna. Dalam hal ini beliau memperkenalkan dua kolokasi untuk menerangkan arti, yaitu arti gramatikal clan arti fonologis.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s