TUGAS III PSIKOLINGUISTIK FATIMAH 105104012/A Mengkaji bahasa dari teori Ferdinand De Saussure, Leonard Bloomfield, dan Teori John Rupert Firth melalui percakapan.

Firah         : “Li, tidur duluanka nah” (sambil berlalu masuk kamar).

Lia           : ”Iya, mauka  saya makan. Andin siniki makan, gratis”! (tetap berada di depan meja    makan, hendak makan)

Andin      : “iye makanmaki. Eh banyaknya nyamuk” (mengeluh dengan nada jengkel, dan suara sedikit keras).

Lia           : “Biarmi, sumbangkan sedikit darahmu. Banyaknya tugasku” (makan sambil menanggapi perkataan Andin dengan sedikit canda).

Andin         : “Iya saya juga. Besok saya mid baru saya belum belajar, karena malaska kurasa” (mengeluh dan bercerita tentang perasaannya)

Lia                : “berarti anda belum beruntung. Hehehe… iya Din, tiba masa tiba akal” (menasihati dengan cara bercanda).

Fitri                   : “Andin, hidup sudah susah, jangan dibuat susah lagi. Apa susah?” (dengan nada bercanda)

Dari percakapan di atas yang diteliti adalah teman satu pondokan, pada waktu malam.

(Teori Ferdinand De Saussure) menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur  (speech act) sebagai satu rangkaian hubungan antara dua orang atau  lebih, seperti antara A dengan B. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian-dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar. Jika A berbicara maka B menjadi pendengar, dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar. Dari percakapan di atas dilakukan oleh empat orang, yaitu Firah, Lia, Andin, dan Fitri. Dari percakapan di atas Firah berbicara/bertutur dan Lia yang mendengarkan kemudian menanggapinya dengan mengatakan “Iya, mauka  saya makan. Andin siniki makan, gratis”! (tetap berada di depan meja makan, hendak makan). Firah berkata kemudian disertai tindakan sambil berlalu ke kamarnya dan Lia mempersiapkan makanannya. Hal ini sesuai yang dikemukakan pada Teori Ferdinand De Saussure di atas. De Saussure membedakan antara parole, langue, dan langage. Ketiganya dapat dipadankan dengan kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia.

Parole dari percakapan di atas adalah semua yang keluar dari mulut pembicara yang sifatnya dapat didengar, “Li, tidur duluanka nah”, dll.

Langue dari percakapan di atas adalah bahasa yang sifatnya hanya ada dalam otak penutur bahasa yang bersangkutan (sebelum Firah mengatakan “Li, tidur duluanka nah” dalam pikiran atau benaknya sudah terlintas untuk tidur sehingga memberitahukan pada Lia  teman satu kamarnya).

Langage dari percakapan di atas adalah bahasa Makassar yang masih dipengaruhi oleh bahasa daerah yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dalam bercakap kepada sesama. (“Li, tidur duluanka nah”… siniki… mauka… Biarmi…dll.).

Teori Leonard Bloomfield, mengatakana bahwa bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur (speech community). Ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-ujaran yang terdiri dari potongan-potongan perilaku (tabiat) yang disusun secara linear.

Dari Percakapan di atas terdapat Stimulus (S) dan Respon (R) antara penutur yang satu dengan penutur lainnya (Firah:“Li, tidur duluanka nah”=S, Lia:”Iya, mauka saya makan…”=R). Firah sebelum berkata kepada Lia, dia berpikir untuk tidur, kemudian beranjak ke kamarnya untuk tidur. Dalam hal ini, otak bekerja untuk memikirkan sesuatu yang akan diucapkan kemudian dikeluarkan lewat mulut dan direspon dengan perkataan dann tindakan terhadap perkataan penutur.

Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa unsur-unsur vokal (bunyi) yang dinamai bentuk-bentuk linguistik. Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem-fonem (Bloomfield, 1933: 158). Misalnya, kata dari percakapann di atas:

Tidur adalah bentuk ujaran.

Makan adalah bentuk ujaran.

-ki adalah bentuk bukan ujaran.

Tidur terdiri dari empat fonem, yaitu: /t/, /i/, /d/, /u/, dan /r/ pada kata tidur tidak ada fonem yang dipakai dua kali.

Teori John Rupert Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis. Dari percakapan di atas dapat dilihat pada bunyi ki… siniki (dalam bahasa Makassar), ini tidak dapat ditemukan artinya jika berdiri sendiri tanpa diikuti oleh kata yang mendukung makna bunyi ini. Akan tetapi setelah dimasukkan dalam percakapan bahasa Makassar, maka kata ini memberi arti: panggilan sopan (pada budaya Bugis-Makassar). Salah satu dimensi arti dari lima dimensi adalah dimensi hubungan kata-kata, hal ini tidka boleh dipisahkan dari konteks situasi dan budaya. Arti satu tergantung dari kolokasi yang mungkin dari kata itu.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s