tugas ke 3

Percakapan

C:“Hey, aku jatuh hati padamu”

E:“Apa? Bisa katakan sekali lagi?”

C:“Aku mencintaimu. Bagaimana menurutmu?”

E:“Menurut gue? Itu suatu hal yang bodoh.”

C:“Apa maksudmu?”

E:“Kutahu kau tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Kau hanya sedang galau karena cintamu ditolak gadis lain, kan?”

C:“Hey, apa maksudmu? Aku tidak sedang mengada-ada terlebih lagi berpura-pura. Aku hanya sedang belajar mengatakan suatu kejujuran.”

E:“Oh ya? Kau yakin? Haha…. Dengar ya, kata-kata itu sangat akrab di telingaku. Setiap hari saat kita masih bersama, kau mengucapkannya tanpa henti. Tapi apa yang terjadi sehabis itu? Kau seakan amnesia. Kau terlihat seperti orang bodoh, lugu dan polos. Seakan tidak terjadi apa-apa antara kau dan aku. Kau malu mengakui sebagai pacarmu kan? Sudahlah, jangan mengucapkan kata-kata itu lagi. Basi.”

C:“Maaf. Tapi kali ini aku benar-benar serius.”

E:“Aku hargai kejujuranmu. Tapi maaf, kesempatanmu sudah tidak ada. Aku sudah tidak tertarik berhubungan denganmu. Kau tahu? Berapa liter air mata yang ku buang untukmu? Dulu. Tidak untuk sekarang. Kau hanya bagian dari buku masa laluku dan sekarang buku tersebut sudah aku tutup dan aku simpan dengan rapi. Aku mempunyai buku baru dan akan kupastikan tidak ada tokoh lama yang tertulis di dalamnya. Terimakasih atas perhatianmu kepadaku.”

      I.            Pandangan menurut Teori Ferdinand De Saussure

 

  1. Telaah sinkronik dan diakronik dalam study bahasa

Konsep bersifat pembeda semata-mata, dan secara langsung bergantung pada citra bunyi. Itulah sebabnya Saussure mengatakan bahwa tanda mempunyai dua muka yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain: konsep itu signifie (yang ditandai atau petanda) dan citra akustis itu signifiant (yang menandai atau penanda. Tanda adalah konkret dalam arti tidak ada satupun yang ditinggalkan dari defenisi yang diperlukan oleh sudut pandangnya karena sudut pandangnya itulah yang menciptakan objek: sudut pandang menentukan apa yang dianggap konkret (menyeluruh) sebagai lawan dari abstrak (sebagian). Saussure berpendapat bahwa tanda adalah berupa kalimat, klausa, frasa, morfem (afiks, inflektif, derivatif).

Dalam percakapan diatas yaitu

“Hey, aku jatuh hati padamu” konsep

Dan percakapan diatas yaitu

Hati = tanda bahasa

  1. Perbedaan Langue dan Parole

Langue adalah bahasa konvensional, bahasa yang sesuai ejaan yang telah disempurnakan, bahasa yang mengikuti tata aturan baku bahasa. Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat. Langue bersenyawa dengan kehidupan masyarakat secara alami. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue.

“Aku mencintaimu. Bagaimana menurutmu?”

Parole adalah bahasa tuturan, bahasa sehari-hari. Singkatnya, parole adalah keseluruhan dari apa yang diajarkan orang temasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur, dan pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebas juga. Parole merupakan manifestasi individu dari bahasa. Bahasa parole misalnya, gue kan ga suka cara kayak gitu, loo emangnya siape?, dst. Jadi, parole adalah dialek. Parole bukan fakta sosial karena seluruhnya merupakan hasil individu yang sadar termasuk kata apapun yang diucapkan oleh penutur; ia juga bersifat heterogen dan tak dapat diteliti.

“Menurut gue? Itu suatu hal yang bodoh.”

c.Hubungan Asosiatif dan Sintagmatis

 

Asosiatif .Setiap mata rantai dalam rangkaian wicara mengingatkan orang pada satuan bahasa lain. Dan, karena satuan itu berbeda dari yang lain dalam bentuk dan makna, inilah yang disebut hubungan asosiatif atau paradigmatis. Hubungan asosiatif juga disebut in absentia, karena butir-butir yang dihubungkan itu ada yang muncul, ada yang tidak dalam ujaran. Asosiataif bersifat psikis: bisa berbicara dengan diri sendiri tanpa  mengamati bibir dan geraknya ketika seseorang berbicara.

:“Oh ya? Kau yakin? Haha…. Dengar ya, kata-kata itu sangat akrab di telingaku. Setiap hari saat kita masih bersama, kau mengucapkannya tanpa henti. Tapi apa yang terjadi sehabis itu? Kau seakan amnesia. Kau terlihat seperti orang bodoh, lugu dan polos. Seakan tidak terjadi apa-apa antara kau dan aku. Kau malu mengakui sebagai pacarmu kan? Sudahlah, jangan mengucapkan kata-kata itu lagi. Basi.”

Kata basi ini bisa diasosiasikan sebagai makanan yang sudah basi, atau kata-kata yang sudah diucapkan pada masa lampau dan tidak membutuhkan argumen lagi. Jadi, asosiasi mengandung makna konotasi.

Sedangkan hubungan-hubungan sintagmatis adalah hubungan di antara mata rantai dalam suatu rangkaian ujaran. Hubungan sintagmatis disebut juga hubungan in praesentia karena butir-butir yang dihubungkan itu ada bersama wicara. Dalam wacana, kata-kata bersatu demi kesinambungan, hubungan yang didasari oleh sifat langue yang linear, yang meniadakan kemungkinan untuk melafalkan dua unsur sekaligus. Unsur-unsur itu mengatur diri yang satu sesudah yang lain di rangkaian parole. Kombinasi tersebut yang ditunjang oleh keluasan, dapat disebut: sintagma. Jadi, sintagma selalu dibentuk oleh dua atau sejumlah satuan kata ber-urut-an, misalnya: Terima kasih. Begitu terletak di dalam suatu sintagma, suatu istilah akan kehilangan valensinya karena istilah itu dipertentangkan dengan istilah yang mendahului dan mengikuti atau dengan keduanya.

Dalam percakapan di bawah ini

:“Aku hargai kejujuranmu. Tapi maaf, kesempatanmu sudah tidak ada. Aku sudah tidak tertarik berhubungan denganmu. Kau tahu? Berapa liter air mata yang ku buang untukmu? Dulu. Tidak untuk sekarang. Kau hanya bagian dari buku masa laluku dan sekarang buku tersebut sudah aku tutup dan aku simpan dengan rapi. Aku mempunyai buku baru dan akan kupastikan tidak ada tokoh lama yang tertulis di dalamnya. Terima kasih atas perhatianmu kepadaku.

   II.            Teori Leonard Bloomfield

Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa unsur-unsur vokal (bunyi) yang dinamai bentuk-bentuk linguistik.  Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang  dibentuk oleh fonem-fonem (Bloomfield, 1933;158). Fonem adalah : satuan bunyi terkecil dan distingtif dalam leksikon suatu bahasa, seperti bunyi [u] pada kata bahasa Indonesia /bakul/ karena bunyi itu merupakan bunyi distingtif dengan kata /bakal/. Disini kita lihat kedua kata itu, /bakul/ dan /bakal/, memiliki makna yang berbeda karena berbedanya bunyi [u] dari bunyi [a].

Morfem adalah: satuan atau unit terkecil yang mempunyai makna dari bentuk leksikon. Umpamanya dalam kalimat percakapan diatas “Aku hanya sedang belajar mengatakan suatu kejujuran.” Terdapat merfem : aku, hanya, sedang, belajar, me-,kata, kan, suatu, ke-,jujur.

Frase adalah : unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk  bebas atau lebih. Umpamanya dalam kalimat percakapan diatas, Bisa katakan sekali lagi?”terdapat dua frasa bisa katakan dan frasa sekali lagi.

Kata adalah bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas dan ditambah bentuk-bentuk yang tidak bebas. Misalnya dalam kata percakapan diatas Mencintaimu adalah kata, sedangkan me-,dan mu-, bukan kata; tetapi morfem.

Kalimat adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dari ujaran lain dan merupakan satu ujaran yang maksimum. Misalnya dalam kalimat percakapan di atas aku jatuh hati padamu.

 III.            Teori John Rupert Firt

 

Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.

Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik.Sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan.

pokok-pokok prosodi tersebut terbagi atas tiga macam yakni sebagai berikut:

  • Frosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal
  • Frosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda artinya jeda atau persendian mempunyai hubungan erat dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Kenapa disebut jeda? Yakni karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen  yang satu dengan segmen yang lainnya.

Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan seni biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), dimana sendi dalam menunjukkan batas  yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:

  1. Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)

m/e/n/c/i/n/t/a/i/m/u

  1. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)

//Apa// //maksudmu//

  1. Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#)

Oh ya# Kau yakin#Haha….# Dengar ya# kata-kata itu# sangat akrab #di telingaku#Setiap hari #saat kita #masih bersama#, kau mengucapkannya# tanpa henti#.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s