Tugas psikolinguistik 3

1. TEORI FERDINAND DE SAUSSURE

Percakapan:

A: apa yang dijual itu Ibu-Ibu di depan masjid?

B: jilbab sama bros

A: ouh.. ke sana deh.

B: ayo’..

  1. Langage
    Langage adalah gabungan antara parole dan langue (gabungan antara peristiwa dengan kaidah bahasa atau tata bahasa, atau struktur bahasa). Menurut Saussure, langage tidak memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena di dalam langage ada faktor-faktor bahasa individu yang berasal dari pribadi penutur. Bahkan langage tidak memiliki prinsip keutuhan yang memungkinkan kita untuk menelitinya secara ilmiah.
  2. Langue
    Langue adalah bahasa tertentu sebagai satu sistem tertentu yang hanya ada dalam otak penutur bahasa yang bersangkutan
  3. Parole adalah bahasa tuturan, bahasa sehari-hari, bahasa yang konkret yang keluar dari mulut seorang pembicara Singkatnya, parole adalah keseluruhan dari apa yang diajarkan orang, temasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur, dan pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebas.

Jadi contoh di atas, “barang-barang yang dijual ibu-ibu itu yang terkonsep dalam pikiran si A adalah langue, sedangkan apa yang dikatakan si B tentang barang-barang yang dijual ibu-ibu itu adalah parole, sesuatu lambang bunyi. Langage dalam percakapan di atas adalah apa yang ke dua narasumber ucapkan.

2. TEORI LEONARD BLOOMFIELD

Leonard Bloomfield (1887-1949) seorang tokoh linguistik Amerika, sebelum mengikuti aliran behaviorisme dari Watson dan Weiss, adalah seorang penganut paham mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt. Kemudian beliau menentang mentalisme dan mengikuti aliran perilaku atau behaviorisme. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik Amerika, terutama di sekolah linguistik Yale yang didirikan menurut ajarannya. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme. Akibatnya, makna menjadi tidak dikaji oleh linguis-linguis lain yang menjadi pengikutnya. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan (environment) di mana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

A: apa yang dijual itu ibu-ibu depan masjid?

B: jilbab sama bros

A: ouh.. ke sana deh!

B: ayo’..

(1)       Si A melihat ibu-ibu sedang berjualan di depan masjid

(2)  Otak si A bekerja mulai dari melihat ibu-ibu itu hingga berkata kepada si B

(3)  Perilaku si A sewaktu berkata kepada si B adalah respons

(4)  Bunyi-bunyi yang dikeluarkan si A waktu berbicara kepada si B (itu yang akan dianalisa)

(5)  Perilaku si B sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi dari si A adalah stimulus

(6)  Otak si B bekerja mulai dari mendengarkan bunyi suara sampai bertindak

(7)  Si B bertindak, meng”iya”kan ajakan si a adalah respons.

Menurut Bloomfield bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur. Ujaran-ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa unsur-unsur vokal (bunyi) yang dinamai bentuk-bentuk linguistik. Sebagai contoh percakapan di atas:

Jual adalah bentuk ujaran

Dijual adalah bentuk ujaran

Di adalah bentuk bukan ujaran

Fonem: Jual  terdiri dari empat fonem, yaitu: /j/, /u/, /a/, /l/.

Morfem: apa yang dijual terdapat morfem: apa, yang, di-jual.

Kata: jual adalah kata.

Kalimat: apa yang dijual itu ibu-ibu depan masjid?

3. Teori John Rupert Firth

John Rupert Firth (1890-1960) adalah seorang linguis Inggris yang pada tahun 1944 mendirikan sekolah linguistik deskriptif di London. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.
Misalnya, bentuk /kèpala] dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.
Arti atau makna menurut teori Firth adalah hubungan antara satu unsur pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Jadi, arti tiap kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu berikut ini.
1. Hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).
2. Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.
3. Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, dan hubungannya dengan kata itu.
4. Jenis kalimat clan bagaimana kalimat itu digolongkan.
5. Hubungan kalimat dengan konteks situasi.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s