TUGAS PSIKOLINGUISTIK 3

Mengkaji bahasa menurut para ahli yaitu, Ferdinand De Saussure, Leonard Bloofield, dan John Rupert Firth

A. Ferdinand De Saussure

Sekilas tentang Ferdinand de Saussure lahir di Genewa pada tanggal 26 November 1857 dari keluarga Protestan Perancis (Huguenot) yang ber-emigrasi dari daerah Lorraine ketika perang agama pada akhir  abad ke-16.

De Saussure membedakan antara parole, langue, langage:

  • Parole, adalah keseluruhan dari apa yang diajarkan orang temasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur, dan pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebas juga. Parole merupakan manifestasi individu dari bahasa. Bahasa parole misalnya, dalam kutipan percakapan antara A. Pada Uleng dengan Nursyam yaitu “Jadi nda’ menyesal jaki itu baru masuk sekarang?” parole adalah dialek. Parole bukan fakta sosial karena seluruhnya merupakan hasil individu yang sadar, termasuk kata apapun yang diucapkan oleh penutur; ia juga bersifat heterogen dan tak dapat diteliti, misalnya ketika penutur A berkata “amana” sedangkan penutur B tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kata “amana” itu, karena amana merupakan salah satu kosa kata yang berasal dari Dompu yang berarti “Ayah”.
  • Langue adalah bahasa konvensional, bahasa yang sesuai ejaan yang telah disempurnakan, bahasa yang mengikuti tata aturan baku bahasa. Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat.Dalam langue terdapat batas-batas negatif (misalnya, tunduk pada kaidah-kaidah bahasa, solidaritas, asosiatif dan sintagmatif) terhadap apa yang harus dikatakannya bila seseorang mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal. Langue merupakan sejenis kode, suatu aljabar atau sistem nilai yang murni. Langue adalah perangkat konvensi yang kita terima, siap pakai, dari penutur-penurut terdahulu.Langue tidak bisa dipisahkan antara bunyi dan gerak mulut. Langue juga dapat berupa lambang-lambang bahasa konkret; tulisan-tulisan yang terindra dan teraba (terutama bagi tuna runggu). Langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Misalnya dalam kutipan percakapan : “sudah mi” penutur A bermaksud mengkahiri pembicaraan, dan kemudian penutur B mengatakan “iya sudah mi”, karena penutur B mengerti maksud penutur A yang berniat mengakhiri pembicaraanya. angue hadir secara utuh dalam bentuk sejumlah guratan yang tersimpan di dalam setiap otak; kira-kira seperti kamus yang eksemplarnya identik (fotocopy), yang akan terbagi di kalangan individu. Jadi, langue adalah sesuatu yang ada pada setiap individu tetapi orang banyak juga mengetahuinya.
  • Langage Langage adalah gabungan antara parole dan langue (gabungan antara peristiwa dengan kaidah bahasa atau tata bahasa, atau struktur bahasa). Menurut Saussure, langage tidak memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena di dalam langage ada faktor-faktor bahasa individu yang berasal dari pribadi penutur. Bahkan langage tidak memiliki prinsip keutuhan yang memungkinkan kita untuk menelitinya secara ilmiah.Langage mencakup apapun yang diungkapkan serta kendala yang mencegahnya dalam mengungkapkan hal-hal yang tak gramatikal. Contohnya, pada kutipan percakapan antara A. Pada Uleng dengan Nursyam, A. Pada Uleng mengatakan “didalam saja tadi na nervous ka”. Kata ini memang serta sosial banyak digunakan bahkan seolah-olah dianggap sebagai bahasa konvesional. Padahal, kata “Nervous” tidaklah baku, atau hanya sebagai serapan bahasa  tidak sesuai dengan ejaan yang telah disempurnakan (EYD). Langage memiliki segi individual (parole) dan segi sosial (langue) tetapi kita tidak dapat menelaah yang satu tanpa yang lain. Dengan demikian, langage memiliki multi bentuk dan heteroklit; dan psikis.

Sinkronik dan Diakronik

Linguistik sinkronis adalah semua yang berhubungan dengan segi statis dalam ilmu. Sedangkan linguistik diakronis adalah semua yang memiliki ciri evolusi. Ada berbagai contoh untuk melukiskan dualisme intern (sinkronis dan diakronis).Contoh yang lain terdapat dalam bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman tinggi kuno, kata jamak gast, ‘tuan rumah’,  semula adalah gasti, dan jamak hant ‘tangan’ semula adalah hanti, dll. Tetapi di kemudian hari, i- tersebut menjadi umlaut yang mengakibatkan a menjadi e dalam suku kata terdahulu: gasti menjadi gesti, hanti menjadi henti, tetapi kemudian (lagi) i- kehilangan bunyinya dan menghasilkan gesti menjadi geste, dst. Akibatnya, sekarang terdapat kata Gäst: Gaste, Händ: Hande, dan sejumlah besar kelompok kata yang menampilkan bentuk jamak dan tunggal. Ini adalah dimensi diakronis langue. Diakronis tidak mengubah sistem karena kata yang berubah pun adalah sistem dalam bentuk yang lain dengan sistem sebelumnya. Perubahan kata terjadi di luar kemampuan siapapun.

Signifiant dan Signifie

Pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual). contoh pada bahasa bugis yaitu ‘seddi’ yang berarti ‘satu’

‘satu’

seddi’ ……………. (angka satu)

(s,e,d,d,i)

B. Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949), pakar linguistik bangsa Amerika dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Kemudian, sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt, lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teori bahasanya yang kini dikenal sebagai linguistik structural atau linguistik taksonomi. Ciri dari teori behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Misalnya pada percakapan A. Pada Uleng dengan Nursyam, pada sore hari setelah audisi bestra A. Pada Uleng datang menghampiri Nursyam yang sedang duduk dikursi, A. Pada Uleng berkata kepada Nusyam bahwa ia Nervos setelah mengikuti audisi dan ingin duduk sejenak, kemudian Nursyam mempersilahkan A. Pada Uleng agar duduk disampingnya. secara skematis peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut:

S ————->   R……………S   ————->   R

(1)              (2)  (3)             (4)  (5)          (6) (7)

(1) A. Pada Uleng melihat Nursyam sedang duduk dikursi (S)

(2) Otak A. Pada Uleng bekerja mulai dari melihat Nursyam yang duduk di kursi hingga berkata kepada Nursyam

(3) Prilaku dan kegiatan A. Pada Uleng sewaktu berkata kepada Nursyam (R)

(4) Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan A. Pada Uleng sewaktu berbicara kepada Nursyam (….)

(5) Prilaku atau kegiatan Nursyam sewaktu mendengarkan bunyi atau suara yang dikeluarkan A. Pada Uleng (S)

(6) Otak Nursyam bekerja mulai mendengar bunyi suara A. Pada Uleng sampai bertindak

(7) Nursyam mempersilahkan A. Pada Uleng untuk duduk bersama-sama di kursi tersebut (R)

dari skematis peristiwa diatas dapat disimpulkan bahwa nomor (1), (2), (3), merupakan proses metalisme sedangkan nomor (4) merupakan prilaku berbahasa pada tahap inilah dapat diteliti atau diamati karena berupa ujaran atau bunyi-bunyian, nomor (5) adalah proses berbahasa, dan nomor (6), (7) merupakan tidakan atau perilaku gerak yang merespon.

C. John Rupert Firth

Pada tahun (1890-1960) seorang guru besar pada Universitas London yang bernama John R. Firth telah mengemukakan sebuah teorinya mengenai fonologi prosodi.Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk  menentukan arti pada  tataran fonetis. Dimana fonologi prosodi tersebut terdiri dari satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segemental; yakni konsonan, vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal.

Dan adapun pokok-pokok prosodi tersebut terbagi atas tiga macam yakni sebagai berikut:

  • Frosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal
  • Frosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda artinya jeda atau persendian mempunyai hubungan erat dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Kenapa disebut jeda? Yakni karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen  yang satu dengan segmen yang lainnya.

Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan seni biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), dimana sendi dalam menunjukkan batas  yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:

  1. Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
  2. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
  3. Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#)

misalnya dalam kutipan percakapan antara A. Pada Uleng dengan Nursyam:

Nursyam  : apa modal ta’ masuk bestra?

A. Pada Uleng : modal ku? modal apa? maksudnya?

Nursyam : kan di Bestra itu kesenian, jadi maksud ku apa bakat ta?

A. Pada Uleng : ohh, menari..!

Pada kutipan percakapan diatas terdapat kosakata “modal” dalam bahasa Indonesia “modal” berarti [n] (1) uang yg dipakai sbg pokok (induk) untuk berdagang, melepas uang, dsb; harta benda (uang, barang, dsb) yg dapat dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yg menambah kekayaan dsb, sedangkan dalam konteks situasi penutur menganggap “modal” adalah “bakat/keahlian” yang dapat ditunjukkan dalam pementasan organisasi bestra.

arti atau makna menurut teori Firth adalah hubungan antara satu unsur pada satu unsur tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama, jadi tiap arti kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu:

  1. hubungan kata-kata satu sama lain dengan kalimat.
  2. hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain dan hubungannya dengan kata itu.
  3. jenis kalimat dan bagaimana kalimat itu digolongkan.
  4. hubungan kalimat dengan konteks situasi.
  5. hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s