TUGAS PSIKOLINGUISTIK 3, INDAH RUKHMIATI 105104014

Mengkaji bahasa menurut Ferdinand De Saussure, Leonard Bloomfield dan John Rupert Firth!!!

TEORI FERDINAND DE SAUSSURE

Dalam konsep Saussure, trio Langage-langue-parole dipergunakan untuk menegaskan objek kajian linguistiknya. fenomena bahasa secara umum disebutnya langage,1 dimana langue memiliki segi individual dan segi sosial, sedangkan langue dan parole merupakan bagian dari langage yang memiliki kedua aspek yang ada dalam langage tersebut.2 Dilihat secara keseluruhan,langage adalah multi bentuk, heteroklit dan psikis, langage menjadi bagian, baik dari bidang individu maupun dari bidang sosial dan tidak dapat diklasifikasikan dalam kategori fakta kemanusiaan mana pun karena tidak dapat menonjolkan keutuhannya.3

Langue adalah bahasa sebagai objek sosial yang murni, dan dengan demikian keberadaannya terletak di luar individu, yakni sebagai seperangkat konvensi-konvensi sistemik yang berperan penting di dalam komunikasi.4 Langue adalah bagian sosial dari langage, berada di luar individu, yang secara mandiri tidak mungkin menciptakan maupun mengubahnya. Langue hanya hadir sebagai sebuah kontrak di masa lalu di antara para anggota masyarakat.5 disamping sebagai institusi sosial, langue juga berfungsi sebagai sistem nilai. BagiSaussurelangue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan.

Kebalikan dengan langueparole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual. parole dapat dipandang, pertama, sabagai kombinasi yang memungkinkan penutur mampu menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Di samping itu, kedua, parole pun dapat dipandang sebagai mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan penutur penampilkan kombinasi tersebut. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwaparole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. karena adanya keberulangan inilah maka setiap tanda bisa menjadi elemen darilangue.7 Secara singkat dapat dikatakan bahwa parole merupakan penggunaan aktual bahasa sebagai tindakan individu-individu.

Dalam pengertian umum, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu dan setara dengan kalam.

Menurut Saussure, langue bukanlah kegiatan penutur, langue merupakan produk yang direkam individu secara pasif. Sebaliknya, parole adalah suatu tindakan individual dari kemauan dan kecerdasannya. Langue adalah suatu benda tertentu di dalam kumpulan heteroklit peristiwa-peristiwa langage. Dia adalah bagian sosial dari langage, berada di luar individu, yang secara mandiri tidak mungkin menciptakan maupun mengubahnya. Langue hanya hadir sebagai hasil semacam kontrak di masa lalu di antara para anggota masyarakat.

Ferdinand de Saussure (1916) membedakan pemakaian bahasa ke dalam istilah Langage, Langue, dan Parole. Ketiga istilah yang berasal dari bahasa Perancis tersebut, dalam bahasa Indonesia padanannya disebut dengan bahasa, padahal ketiganya mempunyai pengertian yang sangat berbeda, walaupun ketiganya bersangkut paut dengan bahasa. Langage adalah sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal diantara sesama pemakai bahasa. Langage ini bersifat abstrak dan juga bersifat universal, sebab langage adalah satu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia pada umumnya, bukan manusia pada suatu tempat atau masa tertentu.

langue adalah sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya.

parole merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran/tuturan yang dilakukan oleh anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya.

Contoh percakapan:

Ani : weh, Kemarin toh darika’ di toko 5000.

Bian : Toko 5000? Apa itu?

Ani : iya, Toko 5000 itu toko yang rata-rata barangnya  5.000 ji harganya.

Bian : Oh iyakah? Mmmmt, Baru ku tau. Di mana tempatnya?

Ani : Di Jln. Veteran, tidak jauhji dari rumahku.

Bian : Barang-barang apa saja yang dijual di sana?

Ani : Macam-macam, mulai dari kebutuhan sekolah, buku-buku, kertas, pulpen, ada juga peralatan rumah tangga.

Bian : trus apa yang kau beli di sana kemarin?

Ani : pulpenji saya beli selusin.

Bian : Berapa harganya?

Ani  : Ya Rp 5.000. Namanya juga Toko 5000.

Bian : Selusin pulpen Rp 5.000? Jadi kurang dari Rp 5.00 per biji? Bagusji kualitasnya kah?

Ani : Ya, lumayan. saya beli untuk adekku untuk saya juga.

Bian : ih, mauka aeng juga deh. Boleh ku liat pulpenmu?

Ani : Inie.. “sambil memerlihatkan ulennya”

Bian : Terima kasih nah. Nanti sorepi  ke sanaka.

Langue:  dalam dialog tersebut dapat dilihat ketika bian bertanya kepada Ani mengenai apa itu toko 5000. Disitu  dapat diketahui terdapat langue pada saat Byan mengatakan ” Oh iyakah? Mmmmt, Baru ku tau. Di mana tempatnya?”kata oh iyakah, mmmt artinya dia memiliki konsep atau pengetahuan yang ada dipikirannya. Hal tersebut yang menjadi langue. Langue dapat diketahui ketika dikeluarkan lewat alat ucap atau yang disebut dengan parole.

Parole: dalam percakaan diatas yang menjadi parole adalah ketika Ani menjelaskan kepada Byan apa itu toko 5ooo, dimana tempatnya dan apa saja yang dijual disana. Hal ini dikatakan parole karena parole merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran/tuturan yang dilakukan oleh anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya sehingga bisa dimengerti oleh pendengar atau lawan bicaranya.

Langage:  Dari percakapan di atas dapat dilihat dari bahasa yang digunakan Ani dan Bian dalam berinteraksi atau berkomunikasi.

TEORI LEONARD BLOOMFIELD

Leonard Bloomfield lahir pada tanggal 1 April 1887, di Chicago. Dia lulus dari Harvard College pada usia 19 dan melakukan pekerjaan pascasarjana selama 2 tahun di University of Wisconsin, dimana ia juga mengajar di Jerman. Minatnya dalam linguistik terangsang oleh Eduard Prokosch, seorang ahli bahasa di departemen Jerman. Bloomfield menerima gelar doktor dari University of Chicago pada tahun 1909.

Pengaruh linguis Amerika Leonard Bloomfield (1887-1949) didominasi ilmu linguistik dari tahun 1933 – ketika karyanya yang paling penting, Bahasa, diterbitkan – untuk pertengahan 1950-an.

Leonard Bloomfield (1887-1949,Amerika) Dalam menganalisis bahasa Bloomfield dipengaruhi oleh 2 aliran psikologi yang saling bertentangan yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menggunakan prinsip-prinsip mentalisme(yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang menyenangkan terutama karena adanya tekanan emosi yang kuat. Jika melahirkan pengalaman dalam bentuk bahasa ini karena adanya tekanan emosi yang kuat maka muncullah ucapan(kalimat) ekslamasi. Jika pengalaman ini lahir dari keinginan berkominasi maka lahirlah kalimat deklarasi. Jika keinginan berkomunikasi ini bertukar menjadi kenginan untuk mengetahui maka akan menjadi kalimat interogasi.

Sejak tahun 1925 Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teorinya yang kini terkenal dengan nama “linguistik struktural” dan “linguistik taksonomi”. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik Amerika, terutama di sekolah linguistik Yle yang didirikan menurut ajarannya. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme.

Akibatnya, makna menjadi tidak dikaji oleh linguis-linguis lain yang menjadi pengikutnya. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan (environment) di mana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

Contoh:

Byan dan Ani tidak sengaja bertemu dijalan ketika pulang latihan, kemudian Byan bertanya kepada Ani dia dari mana? Ani pun menjawab dia dari toko 5000, dia dari beli pulpen. Byan pun kembali bertanya kepada Ani, apa itu toko 5000? Dmna tempatnya dan jual apa saja disana? Ani pun menjawab toko 5000 itu toko yang menjual barang- barang yang harganya rata-rata 5000, letaknya di jln. Veteran dekat dari rumah saya. Byan pun mengerti dan hendak berkunjung ke toko tersebut.

Secara sistematis peristiwa ini digambarkan;

S                            r ………………………………… s                                R
(1)                   (2)     (3)                                         (4)   (5)                 (6)    (7)

Keterangan:

(1)   Ani melihat Byan (Stimulus=s)

(2)   Otak Byan  bekerja mulai dari melihat Ani sampai bertanya kepada Ani

(3)   Perilaku byan ketika bertanya kepada Ani (r=respons)

(4)   Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Byan ketika bertanya kepada kepada Ani. (……)

(5)   Perilaku Byan ketika mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Ani. (s=stimulus)

(6)   Otak Byan bekerja mulai dari mendengarkan bunyi suara Ani sampai bertindak

(7)   Byan bertindak untuk berkenjung ke toko yang di ceritakan oleh Ani.

TEORI JOHN RUPERT FIRTH

ohn Rupert Firth (1890-1960) adalah seorang linguis Inggris yang pada tahun 1944 mendirikan sekolah linguistik deskriptif di London. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi.  Beliau sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama aliran Prosodi.

Fonologi prosodi terdiri dari satuan-satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segmental, yaitu konsonan dan vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang dari pada suatu segmen tunggal. Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :

1)  Prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vokal;

2)Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda;  frosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda artinya jeda atau persendian mempunyai hubungan erat dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Kenapa disebut jeda? Yakni karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen  yang satu dengan segmen yang lainnya.

3)  Prosodi yang realisasi fonetisnya melampui satuan yang lebih besar daripada fonem-fonem suprasegmental.

Jeda ini bersifat penuh dan dapat juga bersifat sementara, sedangkan seni biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) atau sendi luar (open juncture), dimana sendi dalam menunjukkan batas  yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini, biasanya dibedakan:

  1. Jeda antara kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/)
  2. Jeda antara frase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda (//)
  3. Jeda antara kalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#)

Sehingga dapat diketahui bersama bahwa dalam bahasa Indonesia sangat penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat

  • Frosodi yang realisasi fonetisnya melampaui yang lebih besar dari pada fonem-fonem sopra segmental. Artinya bahwa arus ujaran merupakan tuntutan bunyi sambung bersambung terus menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental; tetapi berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi supra segmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur supra segmental ini biasanya dibedakan pula atas; tekanan atau stress, nada atau pitch, jeda atau persendian.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s