TUGAS 3 ANALISIS PERCAKAPAN BERDASARKAN TEORI-TEORI LINGUISTIK

ANHA       : baruki pulang KAK?

REZA        : iye, karena tinggalka dulu kerja tugas di kampus, kamu?

ANHA       : dari tadi ji saya, karena tidak masuk dosenku.
Mauki pergi ke MTC?

REZA        : cari apaki di sana?

ANHA       : cari laptop murah, kalau mauki sama maki ke sana!

REZA        : sebentar pi saya dech, karena capek sekalika, mauka dulu istrahat.

ANHA       : oh iye, duluan ma paenk saya nah.

A.    Analisis percakapan berdasarkan teori Ferdinand De Saussure

De Saussure memperkenalkan konsep dalam linguistik yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan asosiatif atau paradigmatik. Konsep sintagmatik dan paradigmatik adalah konsep analisis ilmu bahasa struktural yang mengandung pengertian bahwa kemunculan suatu unsur menjadi unit selalu dalam hubungan atau relasi antara unit dengan unit maupun dengan unsur lainnya. Denan kata lain, unit selalu dalam hubungan dengan unit atau unsur lainnya. Hubungan jenis pertama adalah hubungan unit-unit bahasa yang telah diucapkan atau diwujudkan. Sedangkan hubungan jenis kedua adalah hubungan antara unit dengan unsur yang belum diwujudkan.

Hubungan sintagmatik adalah hubungan horizontal antara unsur-unsur kalimat yang membentuk urutan linear. Hubungan paradigmatik hubungan antara unit yang telah terjelma dalam ucapan dan unsur yang belum terjelma dalam ucapan.

De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur (Speech act) merupakan suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti antara A dengan B. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga serta bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara atau pendengar.  Jika A berbicara maka B menjadi pendengar dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar.

Contoh pada percakapan di atas dapat dianalisis, bahwa percakapan di atas merupakan suatu tindakan bertutur seseorang yang dilakukan antara 2 orang atau lebih yang dalam tindakan tersebut terdapat berbagai macam unsur  yang berperan baik dari dalam maupun dari luar.

B.     Analisis percakapan berdasarkan teori Leonard Bloomfield

Menurut Bloomfield bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur. Ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-ujaran yang terdiri dari potongan-potongan perilaku (tabiat) yang disusun secara linear.

Bloomfield yang menganut paham behaviorisme menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviourisme tersebut. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan dan unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

Perilaku Reza ketika mendengar ucapan Anha merupakan stimulus di dalam otak Reza. Otak Reza bekerja mulai dari mendengar ucapan Anha sampai bertindak dan bertanya merupakan respon dari stimulus tadi. perilaku Reza ketika mendengarkan pertanyaan atau bunyi suara tersebut merupakan stimulus yang dialami Anha. Kemudian, Reza menjawab pertanyaan itu sebagai respon dari stimulus tersebut.

C.     Analisis percakapan berdasarkan teori John Rupert Firth

Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks itu. Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks.

Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks itu. Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan, fonetik, morfologi, leksikon, sintaksis, dan semantik.tingkatan, fonetik, morfologi, leksikon, sintaksis, dan semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan semantik karena menurutnya tingkatan tersebut yang paling dekat dengan konteks.

Pada percakapan di atas, misalnya kalimat “baruki pulang Kak?”. Kata baruki di sini dapat menghasilkan makna yang berlainan, karena tidak memberi kejelasan bahwa kata ini mengandung arti lain. Untuk mengetahui makna sebenarnya, kata baruki ini dapat dilihat pada tingkatan selanjutnya misalnya morfologi, sintaksis, atau semantik.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s