TUGAS 5 Mencari orang yang mengalami gangguan berbahasa, berbicara, dan berpikir

TUGAS 5

Mencari orang yang mengalami gangguan  berbahasa, berbicara, dan berpikir

GANGGUAN BERBAHASA

Gangguan berbahasa ini secara garis besar dapat dibagi dua. Pertama akibat faktor medis dan faktor lingkungan sosial. Secara medis menurut Sidharta (1984) gangguan berbahasa itu dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu (1) gangguan berbicara, (2) gangguan berbahasa (3) gangguan berpikir.

1. Gangguan Berbicara

Berbicara merupakan aktivitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh karena itu, gangguan   berbicara ini dikelompokkan ke dalam dua kategori. Pertama, gangguan mekanisme berbicara yang berimplikasi pada gangguan organik dan kedua, gangguan berbicara psikogenik.

Contoh gangguan berbicara,

Nama                                       : Dg. Kacong

Umur                                       : 51 Tahun

Alamat                                    :  Tallo

Gangguan berbicara                : Gangguan akibat Faktor pulmonal

Penyebab                                : Dg. Kacong mengalami gangguan akibat faktor pulmonal, karena pengaruh lingkungannya, dia perokok berat dan juga peminum kopi. Hal ini sangat didukung oleh tempat kerjanya yang di gudang, yaitu di gudang rokok dan juga kopi. Setelah beberapa lamanya kerja di gudang tersebut dan juga merokok dan pada akhirnya dia menderita penyakit paru-paru. Cara berbicaranya diwarnai oleh nada yang monoton, volume suara yang kecil sekali, dan terputus-putus, meskipun dari segi semantik dan sintaksis tidak ada masalah.

2. Gangguan Berbahasa

Berbahasa, berarti berkomunikasi dengan mengguanakan suatu bahasa. Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkn kata-kata. Ini berarti, daerah Broca dan Wernicke harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia, dalam hal ini broca sendiri menamai afemia.

Nama                           : Fikri

Umur                           : 7 Tahun

Alamat                        : Jalan Dg Tata III

Gangguan berbahasa   : Afasia motorik subkortikal

Penyebab                   : Sandi-sandi perkataan di lapisan permukaan (korteks) daerah Broca, maka apabila kerusakan terjadi pada bagian bawahnya (subkortikal) semua perkataan masih tersimpan utuh di dalam gudang. Namun, perktaan itu tidak dapat dikeluarkan karena hubungan terputus, sehingga perintah untuk mengeluarkan perkataan tidak dapat disampaikan. Melalui jalur lain tampaknya perintah untuk mengeluarkan perkataan masih dapat disampaikan ke gudang penyimpanan perkataan itu (gudang Broca) sehingga ekspresi verbal masih mungkin dengan pancingan. Jadi, penderita afasia motorik subkortikal tidak dapat mengeluarkan isi pikirannya dengan menggunakan perkataan, tetapi masih bisa mengeluarkan perkataan dengan membeo. Selain itu, pengertian bahasa verbal dan visual tidak terganggu, dan ekspresi visual pun berjalan normal.

3. Gangguan Berpikir

Gangguan ekspresi verbal sebagai akibat dari gangguan pikiran, yaitu Sisofrenik (halusinasi auditorik)

Nama                           : Ani

Alamat                                    : Camba (Bengo)

Umur                           : 29 tahun

Gangguan berpikir      : Suka berbicara sendiri dengan bahasa-bahasa gaul (Sisofrenik/ halusinasi auditorik). Sebelum diganggu halusinasi atau biasa disebut halusinasi auditorik, bahasa para penderita sisofrenik ini tampak terganggu. Pada tahap awal penderita sisofrenik ini mengisolasi pikirannya. Tidak banyak berkomunikasi dengan dunia luar, tetapi banyak berdialog dengan diri sendiri. Ekspresi verbal terbatas, tetapi kegiatan dalam dunia bahasa internal (berbahasa dalam diri sendiri) sangat ramai. Oleh karena itu, gangguan ekspresi verbal sisofrenia tahap awal ini menyerupai mutisme elektif. Pada tahap prahalusinasi ini gaya bahasa verbal dan tulisnya dicoraki dengan penggunaan kata ganti “aku” yang berlebihan. Lalu dia mengalami kesulitan dalam mencari kosakata yang tidak hendak digunakan justru secara tidak sengaja digunakannya. Gangguan ekspresi verbal ini membuat pasien lebih menarik diri dari pergaulan, sehingga ekspresi verbal menjadi sangat terbatas atau jarang. Begitu halusinasi auditorik melandanya yang terganggu sesungguhnya bukanlah gaya bahasanya, melainkan makna curah verbalnya yang abnormal. Apa yang dibicarakan atau dikeluhkan memiliki hubungan dengan halusinasinya.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s